Gaza: Menteri Israel mengejek aktivis flotila Gaza yang diborgol

Menteri Keamanan Nasional Israel memberi isyarat di depan bendera Israel saat mengunjungi sebuah fasilitas di pelabuhan Ashdod, Israel, tempat para aktivis pro-Palestina dari flotila menuju Gaza ditahan (20 Mei 2026).

Kecaman dari berbagai negara bermunculan terhadap pemerintah Israel terkait Metode mereka memperlakukan ratusan aktivis dan relawan pro-Palestina yang tergabung dalam misi kemanusiaan Mendunia Sumud Flotilla 2.0.

Amerika Perkumpulan, UK, Prancis, Italia, dan Kanada termasuk di antara negara-negara yang menyatakan kemarahan setelah Menteri Keamanan Nasional berhaluan sayap kanan, Itamar Ben-Gvir, mengunggah video yang menunjukkan dirinya mengejek para aktivis yang berlutut dengan tangan terikat di belakang punggung mereka.

Aksi tersebut juga menuai kritik dari Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, yang mengatakan hal itu “Bukan sejalan dengan nilai-nilai Israel”.

Sebuah Grup hak asasi yang mewakili 430 aktivis dan relawan Mendunia Sumud Flotilla yang berasal lebih dari 40 negara menuntut pembebasan mereka.

Flotila tersebut, yang membawa Donasi kemanusiaan, hendak menyoroti kondisi sulit yang dihadapi Penduduk Palestina di Gaza.

Israel di sisi lain menyebutnya sebagai “aksi humas Buat kepentingan Hamas”.

Israel cegat puluhan kapal Mendunia Sumud Flotilla ‘secara ilegal’

Lebih dari 50 kapal yang tergabung dalam Mendunia Sumud Flotilla (GSF) berlayar dari Turki, Kamis (14/05) Lampau.

Pada Senin (18/05) pagi, Laskar bersenjata dari Angkatan Laut Israel mulai mencegat armada tersebut di perairan Global sebelah barat Siprus, Sekeliling 250 mil laut dari pantai Gaza, yang diblokade Israel.

Penyelenggara GSF menyebut Sekalian kapal telah dicegat pada Selasa (19/05) malam. Salah satu kapal, menurut penyelenggara GSF, berhasil mendekat hingga 80 mil laut dari Area Palestina tersebut.

Mereka menuduh Israel melakukan “Invasi ilegal di laut lepas” serta mengatakan komando Israel telah menembaki enam kapal, menggunakan meriam air, dan dengan sengaja menabrak satu kapal.

Pada Senin (18/05) pagi, pasukan bersenjata dari Angkatan Laut Israel mulai mencegat armada tersebut di perairan internasional sebelah barat Siprus, sekitar 250 mil laut dari pantai Gaza, yang diblokade Israel.

Kementerian Luar Negeri Israel mengklaim pasukannya Bukan menggunakan peluru tajam dan menegaskan “Bukan mengizinkan pelanggaran terhadap blokade laut yang Absah atas Gaza”.

Kementerian itu juga mengatakan seluruh aktivis telah dipindahkan ke kapal Israel dan akan diizinkan Bersua perwakilan konsuler mereka setelah tiba di Israel.

Pada Rabu (20/05) pagi, Grup pelindung HAM di Israel, Adalah, mengatakan para aktivis “dibawa ke Area Israel sepenuhnya tanpa persetujuan mereka” dan ditahan di Pelabuhan Ashdod.

“Tim hukum akan menantang legalitas penahanan ini dan menuntut pembebasan segera Sekalian peserta flotila,” tambah perwakilan Adalah.

Aksi Itamar Ben-Gvir

Pada Rabu (20/05) sore, Itamar Ben-Gvir—seorang ultra-nasionalis yang menjabat sebagai menteri keamanan nasional dan membawahi kepolisian Israel—mengunggah video di media sosial dengan keterangan “Selamat datang di Israel”.

Video tersebut memperlihatkan dirinya mengunjungi fasilitas penahanan di Pelabuhan Ashdod, tempat para aktivis ditahan.

Dia terlihat menyemangati petugas keamanan Ketika mereka menekan seorang aktivis Perempuan yang berteriak “Palestina merdeka”.

Ben-Gvir kemudian terlihat melambaikan bendera Israel berukuran besar di samping puluhan aktivis yang berlutut di tanah dengan tangan terikat di belakang punggung mereka.

Dia mengatakan kepada mereka dalam bahasa Ibrani: “Selamat datang di Israel. Kami adalah tuan.”

Para aktivis lainnya terlihat berlutut di dek kapal Ketika Musik kebangsaan Israel diputar.

Kecaman bermunculan dari berbagai negara

Duta Besar AS Buat Israel, Mike Huckabee, menyebut tindakan Ben-Gvir “menjijikkan”.

Menteri Luar Negeri UK, Yvette Cooper mengatakan video itu menunjukkan “kejadian yang Pas-Pas memalukan”, seraya menambahkan bahwa dia telah mengirim pemanggilan kepada Kedutaan Israel Buat menuntut “penjelasan segera”.

Sebelumnya, Yvette Cooper, mengatakan pemerintah UK “telah berkontak dengan keluarga sejumlah Penduduk negara UK yang terlibat Buat memberikan dukungan konsuler”.

Perdana Menteri Kanada, Mark Carney, menyebut perlakuan Israel terhadap para aktivis “sangat memuakkan”. Dia mengaku telah menginstruksikan pejabat Buat memanggil duta besar Israel.

“Perlindungan Penduduk sipil dan penghormatan terhadap Harkat Mahluk harus dijunjung tinggi di mana pun, setiap Ketika,” kata Carney dalam sebuah unggahan di X.

Italia, Prancis, Belanda, Belgia, dan Spanyol mengatakan tindakan Ben-Gvir “Bukan dapat diterima” dan bahwa mereka telah memanggil duta besar Israel di masing-masing negara.

Menteri Luar Negeri Irlandia, Helen McEnte,e mengatakan rekaman tersebut menunjukkan bahwa “peserta yang ditahan secara ilegal”, termasuk Penduduk Irlandia, “Bukan diperlakukan dengan Harkat atau rasa hormat yang semestinya”.

Lembaga pelindung HAM di Israel, Adalah, mengatakan rekaman itu menunjukkan Israel “menerapkan kebijakan kriminal berupa kekerasan dan penghinaan terhadap para aktivis”.

Thoudy Bada Rifanbillahi dan Andi Angga Prasadewa, dua dari total sembilan WNI dalam ekspedisi Global Sumud Flotilla menuju Gaza yang ditangkap otoritas Israel.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Indonesia, Sugiono, menyatakan pemerintah Lalu berkoordinasi Buat penyelamatan para WNI yang ditangkap Israel.

“Kita berharap kondisi mereka Bagus-Bagus saja. Kami juga Lalu melakukan upaya koordinasi karena kita Bukan punya Interaksi langsung,” ujarnya.

“Jadi kita minta tolong kepada Sahabat-Sahabat kita yang pertama mengalami nasib serupa juga dari Penduduk negaranya, kemudian dari Sahabat-Sahabat yang Terdapat di Yordania dan Turki. Kita doakan semoga mereka kondisinya Bagus-Bagus saja dan Pandai segera kembali ke tanah air dalam keadaan sehat dan selamat,” sambungnya.

Sebanyak sembilan WNI, yang turut serta Mendunia Sumud Flotilla 2.0, telah ditangkap Israel.

Kabinet Israel ikut mengecam aksi Ben-Gvir

Dalam langkah yang Bukan Normal, Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Saar, turut mengecam Menteri Keamanan Nasional, Itamar Ben-Gvir.

Gideon Saar menulis di X: “Anda dengan sadar merugikan negara kita dalam pertunjukan memalukan ini — dan bukan Buat pertama kalinya.”

Ben-Gvir dengan Segera membalas: “Menteri luar negeri diharapkan memahami bahwa Israel telah berhenti menjadi pihak yang mudah ditekan.”

Salah satu kapal dalam ekspedisi GSF dipotret di pelabuhan Marmaris, Turki, 14 Mei lalu.

Perdana Menteri, Benjamin Netanyahu, kemudian menegur Ben-Gvir secara terang-terangan.

“Israel Mempunyai hak penuh Buat mencegah flotila provokatif pendukung teroris Hamas memasuki perairan teritorial kami dan mencapai Gaza,” demikian bunyi pernyataan tersebut.

“Tetapi, Metode Menteri Ben-Gvir menangani para aktivis flotila Bukan sejalan dengan nilai dan Kebiasaan Israel.”

Netanyahu menyatakan telah menginstruksikan otoritas Israel Buat “mendeportasi para provokator sesegera mungkin”.

Kondisi kemanusiaan di Gaza

GSF mengatakan para aktivisdan relawan membawa makanan, susu formula bayi, dan Donasi medis Buat Penduduk Palestina di Gaza. Kondisi kehidupan di sana sangat Jelek dan sebagian besar dari 2,1 juta penduduknya mengungsi, meskipun gencatan senjata disepakati oleh Israel dan Hamas Oktober Lampau.

Kementerian Luar Negeri Israel mengklaim Gaza “dibanjiri Donasi” karena lebih dari 1,5 juta ton Donasi dan ribuan ton pasokan medis telah masuk ke Area tersebut selama tujuh bulan terakhir.

PBB mengatakan pekan Lampau bahwa banyak keluarga yang mengungsi di Gaza Tetap terpaksa berlindung di tenda yang penuh sesak atau bangunan yang rusak parah karena Bukan Terdapat alternatif yang lebih Kondusif.

Akses ke layanan dasar tetap terbatas, tambah PBB. Pasokan air Kudus Bukan konsisten dan sistem pengelolaan sampah terganggu sehingga menimbulkan masalah kesehatan masyarakat.

Hama dan hewan pengerat juga menjadi masalah.

PBB mengatakan layanan kemanusiaan Lalu Tertahan oleh Restriksi impor Spesies cadang Krusial, generator cadangan, dan peralatan lainnya. Bahkan, upaya itu kekurangan bahan Krusial, termasuk bahan bakar dan oli mesin.

Disebutkan bahwa hanya 86% dari pasokan kemanusiaan yang awalnya disetujui oleh otoritas Israel Buat masuk ke Gaza pada April. Itupun akhirnya dibongkar di perbatasan. Sisa pasokan dikembalikan ke tempat asalnya.