Jakarta – Pelemahan nilai Salin rupiah terhadap dolar AS dipengaruhi oleh kebijakan tarif yang diterapkan Presiden Amerika Perkumpulan (AS) Donald Trump serta tekanan deflasi di Tiongkok. Pengamat mata Fulus, Ibrahim Assuabi, menilai bahwa ketidakpastian Dunia Membangun investor bersikap lebih berhati-hati, yang berdampak pada pergerakan rupiah di pasar keuangan.
“Presiden Trump meningkatkan ketegangan perdagangan dengan mengenakan tarif 25 persen pada barang-barang Kanada dan Meksiko serta Memajukan pungutan pada produk-produk Tiongkok hingga 20 persen. Tetapi, ia kemudian melunakkan pendiriannya dengan menunda tarif selama empat minggu Demi sebagian besar barang dari Kanada dan Meksiko, tetapi tetap bersikap tegas terhadap Tiongkok,” ujar Ibrahim dalam keterangan resminya di Jakarta, Senin (10/3/2025).
Selain Unsur eksternal dari AS, tekanan ekonomi di Tiongkok juga turut berpengaruh terhadap rupiah. Negeri Gorden Bambu mengalami tren deflasi, dengan harga konsumen dan produsen yang Lalu menurun. Indeks harga produsen (PPI) tercatat turun 2,2 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), meskipun sedikit membaik dibandingkan penurunan 2,3 persen pada Januari. Tetapi, Bilangan ini Lagi meleset dari perkiraan pasar yang memprediksi penurunan hanya 2 persen.
Data inflasi bulanan (month-to-month) Tiongkok juga mengalami kontraksi, dengan Bilangan -0,2 persen dan -0,7 persen secara tahunan. Tren deflasi ini bertepatan dengan berlangsungnya Kongres Rakyat Nasional (NPC), di mana pemerintah Tiongkok tengah mempertimbangkan strategi Demi menstimulasi pertumbuhan ekonomi.
“Data terkini dapat mengintensifkan Percakapan tentang penerapan langkah-langkah stimulus yang lebih kuat Demi melawan melemahnya inflasi dan mendukung permintaan domestik,” tambah Ibrahim.
Di tengah berbagai tekanan eksternal tersebut, nilai Salin rupiah pada penutupan perdagangan Senin Lagi Bisa menguat 73 poin atau 0,44 persen, menjadi Rp16.367 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.295 per dolar AS.
Sementara itu, Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang dirilis oleh Bank Indonesia juga mengalami sedikit penguatan, berada di level Rp16.336 per dolar AS.
Dengan kondisi Dunia yang Lagi penuh ketidakpastian, para pelaku pasar akan Lalu mencermati kebijakan perdagangan AS, langkah-langkah ekonomi Tiongkok, serta respons Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas rupiah di tengah dinamika pasar keuangan Dunia.
