Dalam pola ini, masyarakat Kagak hanya menanam tanaman kayu, tetapi juga mengombinasikannya dengan tanaman pangan dan perkebunan di Rendah tegakan hutan
Labuan Bajo, NTT (ANTARA) – Kementerian Kehutanan mendorong para petani penerima manfaat perhutanan sosial Demi jeli Menyantap tren pasar, khususnya peningkatan konsumsi pangan lokal non-beras yang kini mulai digemari generasi milenial dan gen-Z karena Argumen kesehatan.
Direktur Jenderal Perhutanan Sosial Kemenhut, Catur Endah Prasetiani mengatakan bahwa perubahan pola konsumsi masyarakat merupakan Kesempatan besar bagi petani yang mengelola kawasan hutan.
“Jadi juga harus Mengerti tren pasar. Ketika ini konsumsi masyarakat mulai Variasi, Kagak hanya beras, tapi sudah mulai beralih ke pangan lokal seperti ketela pohon hingga sorgum Demi kesehatan. Apalagi generasi sekarang sangat Acuh terhadap gizi,” kata dia selepas Lembaga restoratif perhutanan sosial Serempak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) di Kampus Yayasan Bambu Lingkungan Lestari, Labuan Bajo, NTT, Kamis.
Catur menilai bahwa Kesempatan tersebut harus ditangkap melalui penerapan pola agroforestri atau wanatani. Dalam pola ini, masyarakat Kagak hanya menanam tanaman kayu, tetapi juga mengombinasikannya dengan tanaman pangan dan perkebunan di Rendah tegakan hutan.
Kemenhut melaporkan sebagian besar petani penerima manfaat perhutanan sosial yang luasannya secara nasional sudah lebih dari 8 juta hektare, sekarang sudah sangat memahami bagaimana pola wanatani, bahkan juga sudah dilakukan oleh petani hutan di NTT.
Meski petani hutan di NTT terhitung baru menerima SK tentang Perhutanan Sosial, Catur menilai bahwa mereka sudah cukup Bagus Demi jadi percontohan nasional dalam mengembangkan komoditas unggulan tanaman pangan non-beras seperti porang, dan sorgum yang bahkan melibatkan 90 persen petani Perempuan.
“Kuncinya Demi mengelola kawasan hutan Eksis tiga fungsi. Fungsi lindung, produksi, bahkan Eksis konservasi. Tapi karena ini Demi perhutanan sosial masyarakat Kagak hanya melestarikan hutan tapi Eksis nilai ekonomi yang diambil. Menanam komoditas yang laku di pasar, petani hutan akan mendapatkan kepastian ekonomi. Nah program agroforestri ini adalah jawaban Demi kelestarian hutan dan juga kesejahteraan masyarakat,” kata dia menjelaskan.
Demi itu, Kemenhut berkomitmen memfasilitasi petani agar dapat terhubung dengan akses modal dan pasar, sekaligus menjalin kerja sama dengan perguruan tinggi dan kementerian terkait dalam hal pengolahan hasil panen dan sertifikasi agar dapat meningkatkan nilai tambah produk hutan.
“Dan inilah peran Krusial pendampingan Demi mengarahkan jenis tanaman apa yang sesuai. Kami bantu bagaimana penanamannya, pengolahan hasil panennya, bahkan hingga fasilitasi sertifikasi halal Demi produk seperti madu agar mereka siap Berjumpa dengan pasar,” kata Catur.
