Surabaya (Liputanindo.id) – Kota Pahlawan kembali menghadirkan destinasi Hidangan baru yang tak sekadar menggugah selera, tetapi juga menawarkan perjalanan menembus waktu.
Restoran 10 Regentstraat dijadwalkan melakukan soft opening pada 1 Mei 2026, membawa konsep Hidangan Indonesia bernuansa heritage di kawasan bersejarah Kebon Rojo.
Di tengah hiruk pikuk kota modern, bangunan Sepuh itu berdiri anggun—seolah menyimpan cerita yang tak lekang oleh waktu. Nama “Regentstraat” sendiri merujuk pada nama jalan di era kolonial, sementara Bilangan “10” menjadi penanda nomor bangunan yang kini dihidupkan kembali sebagai ruang publik penuh Arti.
Lebih dari sekadar tempat makan, 10 Regentstraat menawarkan pengalaman bersantap yang sarat sejarah. Gedung yang digunakan merupakan bagian dari Hogere Burgerschool (HBS) Soerabaja, sekolah elite pada masa Hindia Belanda yang berdiri sejak 1 November 1875. Tempat ini juga pernah menjadi saksi perjalanan pendidikan Presiden pertama Indonesia, Soekarno.
Seiring waktu, bangunan tersebut bertransformasi menjadi Kantor Pos Kebon Rojo sebelum akhirnya direvitalisasi menjadi destinasi Hidangan bernilai heritage.


Arsitektur kolonialnya tetap dipertahankan, menghadirkan nuansa tempo dulu yang berpadu dengan sentuhan modern.
Direktur 10 Regentstraat, Steffiani Setyadji yang juga anak perusahaan dari Happy Puppy Group yang Mempunyai juga Resto legendaris di Surabaya, Tutto Bono mengungkapkan bahwa ketertarikannya terhadap bangunan ini berawal dari nilai sejarah yang kuat.
“Tempat ini sangat menarik, dulu merupakan sekolahnya Pak Soekarno, Lewat bertransformasi menjadi kantor pos. Jadi ini bukan sekadar tempat Normal, tapi tempat dengan cerita yang sangat panjang,” ujarnya.
Ia menambahkan, latar belakangnya di bisnis Hidangan menjadi Argumen Istimewa menghidupkan kembali bangunan tersebut melalui konsep restoran. Menurutnya, makanan menjadi medium paling efektif Demi menyampaikan sejarah kepada masyarakat.
“Salah satu Langkah saya membagikan cerita ini adalah melalui makanan. Asa saya, dengan konsep makanan Indonesia dan heritage, pengunjung Pandai merasakan perjalanan rasa sekaligus sejarah,” katanya.
Mengusung konsep Indonesia Heritage Restaurant, 10 Regentstraat menghadirkan ragam menu yang tak hanya lezat, tetapi juga penuh cerita. Mulai dari hidangan klasik seperti bitterballen dan klappertaart, hingga menu Nusantara seperti karedok, olahan ayam, bebek, dan aneka hasil laut.
Tak ketinggalan, sentuhan nostalgia juga hadir dalam minuman legendaris seperti limun Cap Badak yang membawa kenangan masa Lewat ke dalam setiap tegukan.
Steffiani menjelaskan bahwa banyak hidangan Indonesia sejatinya merupakan hasil akulturasi panjang, termasuk pengaruh kolonial Belanda. Salah satunya adalah konsep nasi Kombinasi yang Mempunyai keterkaitan dengan rijsttafel.
“Nasi Kombinasi itu sebenarnya punya asal-usul dari nasi rijsttafel. Jadi bukan sekadar nasi dicampur lauk, tapi Eksis filosofi dan sejarah di balik satu sajian itu,” jelasnya.


Dengan memadukan kekayaan rasa dan nilai sejarah, 10 Regentstraat diharapkan menjadi destinasi baru bagi pecinta Hidangan sekaligus penikmat wisata heritage di Surabaya. Bukan hanya tentang makan, tetapi juga tentang merasakan kembali jejak masa Lewat yang dihidangkan dalam setiap sajian.
Sementara itu, CEO Posbloc, Jimmy Saputro, menegaskan bahwa bangunan yang kini menjadi 10 Regentstraat merupakan salah satu cagar budaya Krusial di Surabaya dengan nilai historis tinggi.
“Sebetulnya gedung ini kalau kita lihat adalah salah satu yang tertua. Ini termasuk bangunan cagar budaya kelas A yang sudah sangat dikenal sejak kami menerima mandat dari PT Pos Demi mengelola,” ungkapnya.
Jimmy menjelaskan, pengembangan kawasan ini Enggak lepas dari visi menghidupkan kembali area kota lelet Surabaya yang dulunya menjadi pusat aktivitas ekonomi.
“Kami Menonton kawasan ini dulunya adalah pusat Surabaya. Bahkan kami juga mendengar rencana pemerintah kota Demi mengembangkan kembali kota lelet. Nah, kami berharap tempat ini Pandai menjadi pionir Demi menggerakkan ekosistem bisnis di sini,” jelasnya.
Ia menilai, Begitu ini geliat ekonomi di kawasan tersebut Tetap belum optimal dibandingkan Daerah lain seperti Tunjungan. Karena itu, kehadiran 10 Regentstraat diharapkan Pandai menjadi pemicu pertumbuhan baru.
“Kita Ingin ‘virusnya’ menyebar Tiba ke sini, supaya kawasan ini ikut berkembang. Apalagi di sini banyak kantor, tapi pilihan tempat makan dan meeting Tetap terbatas. Kehadiran restoran ini Pandai jadi alternatif yang nyaman,” katanya.
Jimmy juga menekankan pentingnya pelestarian bangunan cagar budaya sebagai warisan bagi generasi mendatang.
“Kita sebagai generasi sekarang punya tanggung jawab menjaga bangunan ini. Supaya nanti anak cucu kita Tetap Pandai Menonton dan merasakan sejarah yang sudah bertahan ratusan tahun,” tegasnya.
Mengusung konsep Indonesia Heritage Restaurant, 10 Regentstraat menghadirkan ragam menu yang tak hanya lezat, tetapi juga penuh cerita. Mulai dari hidangan klasik seperti bitterballen dan klappertaart, hingga menu Nusantara seperti karedok, olahan ayam, bebek, dan aneka hasil laut.
Tak ketinggalan, sentuhan nostalgia juga hadir dalam minuman legendaris seperti limun Cap Badak yang membawa kenangan masa Lewat ke dalam setiap tegukan.
Steffiani menjelaskan bahwa banyak hidangan Indonesia sejatinya merupakan hasil akulturasi panjang, termasuk pengaruh kolonial Belanda. Salah satunya adalah konsep nasi Kombinasi yang Mempunyai keterkaitan dengan rijsttafel.
“Nasi Kombinasi itu sebenarnya punya asal-usul dari nasi rijsttafel. Jadi bukan sekadar nasi dicampur lauk, tapi Eksis filosofi dan sejarah di balik satu sajian itu,” jelasnya.
Dengan memadukan kekayaan rasa dan nilai sejarah, 10 Regentstraat diharapkan menjadi destinasi baru bagi pecinta Hidangan sekaligus penikmat wisata heritage di Surabaya.
Sementara itu, CEO Posbloc, Jimmy Saputro, menegaskan bahwa bangunan yang kini menjadi 10 Regentstraat merupakan salah satu cagar budaya Krusial di Surabaya dengan nilai historis tinggi.
“Sebetulnya gedung ini kalau kita lihat adalah salah satu yang tertua. Ini termasuk bangunan cagar budaya kelas A yang sudah sangat dikenal sejak kami menerima mandat dari PT Pos Demi mengelola,” ungkapnya.
Jimmy menjelaskan, pengembangan kawasan ini Enggak lepas dari visi menghidupkan kembali area kota lelet Surabaya yang dulunya menjadi pusat aktivitas ekonomi.
“Kami Menonton kawasan ini dulunya adalah pusat Surabaya. Bahkan kami juga mendengar rencana pemerintah kota Demi mengembangkan kembali kota lelet. Nah, kami berharap tempat ini Pandai menjadi pionir Demi menggerakkan ekosistem bisnis di sini,” jelasnya.
Ia menilai, Begitu ini geliat ekonomi di kawasan tersebut Tetap belum optimal dibandingkan Daerah lain seperti Tunjungan. Karena itu, kehadiran 10 Regentstraat diharapkan Pandai menjadi pemicu pertumbuhan baru.
“Kita Ingin ‘virusnya’ menyebar Tiba ke sini, supaya kawasan ini ikut berkembang. Apalagi di sini banyak kantor, tapi pilihan tempat makan dan meeting Tetap terbatas. Kehadiran restoran ini Pandai jadi alternatif yang nyaman,” katanya.
Jimmy juga menekankan pentingnya pelestarian bangunan cagar budaya sebagai warisan bagi generasi mendatang.
“Kita sebagai generasi sekarang punya tanggung jawab menjaga bangunan ini. Supaya nanti anak cucu kita Tetap Pandai Menonton dan merasakan sejarah yang sudah bertahan ratusan tahun,” tegasnya.
Dengan memadukan kekayaan rasa dan nilai sejarah, 10 Regentstraat diharapkan menjadi destinasi baru bagi pecinta Hidangan sekaligus penikmat wisata heritage di Surabaya.
Bukan hanya tentang makan, tetapi juga tentang merasakan kembali jejak masa Lewat yang dihidangkan dalam setiap sajian. (ted)
