Liputanindo.id – Skema perebutan atau war tiket haji Sekadar wacana belaka Buat mendapatkan atensi publik atau ‘cek ombak’. Pemerintah belum mengeksekusinya.
Menteri Haji dan Umrah (Menhaj) Moch. Irfan Yusuf meminta calon jemaah yang sudah mengantre bertahun-tahun Tak perlu takut.
“Itu Lagi wacana. Jadi, jemaah enggak perlu takut lah nanti, ‘Saya sudah antre sepuluh tahun, kok dihanguskan?’ Enggak, enggak. Tak Terdapat,” kata Irfan Begitu ditemui usai rapat kerja dengan Komisi VIII DPR RI di Senayan, Jakarta, Selasa kemarin.
Wacana ini merupakan usulan pihaknya Buat memangkas antrean calon jemaah haji Indonesia yang kepanjangan.
Persoalan ini pun membutuhkan pembahasan yang panjang dengan pemangku kepentingan (stakeholder), terutama dari Komisi VIII DPR RI, pelaku bisnis haji, dan jemaah itu sendiri.
“Ini bukan keputusan dalam waktu sebulan-dua bulan, ini Niscaya butuh waktu panjang,” tuturnya.
Sebenarnya ide perebutan tiket ini diprotes dari legislator bidang Religi dan sosial, meski begitu Irfan tak surut Buat membahasnya, mengingat Indonesia membutuhkan terobosan baru.
“Sekadar mungkin istilahnya bukan war tiket atau apalah istilahnya,” kata dia.
Irfan juga belum Dapat memastikan skema baru akan rampung pada tahun depan. Jika begitu, pemerintah akan mengupayakan secepatnya dan menjamin takkan ganggu jemaah yang mengantre Lamban.
“Yang Terang antrean Tak akan kita hanguskan. Itu tetap, Berkualitas jemaah yang sudah antre lima tahun, sepuluh tahun, 15 tahun, enggak perlu khawatir,” katanya.
Di samping itu, Irfan juga mengatakan pemerintah Indonesia sudah berkomunikasi dengan Arab Saudi terkait skema penggunaan kuota haji negara tetangga, sebagaimana solusi yang diusulkan Personil Komisi VIII.
“Itu sudah pernah kita jajaki, tapi pemerintah Saudi kayaknya Lagi belum welcome (terbuka) dengan pola yang ini. Nanti kita coba bicara Kembali dengan pemerintah Saudi,” ucap dia.
