Ilustrasi. Foto: MI
Seperti diketahui, setelah dilantik sebagai Presiden Amerika Perkumpulan (AS), Donald Trump mengumumkan sejumlah kebijakan terobosan, salah satunya menginisiasi gencatan senjata di Gaza.
Gencatan senjata itu disambut optimisme banyak pihak. Itu dianggap dapat meredakan ketegangan geopolitik sekaligus memberikan Cita-cita bagi perbaikan situasi ekonomi Dunia.
Tetapi, Ekonom Center of Macroeconomics & Finance Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Abdul Manap Pulungan Menyantap sebaliknya.
Gencatan senjata di Jalur Gaza, Palestina, Enggak akan banyak membantu. Pasalnya Terdapat banyak masalah lain yang turut berkontribusi besar terhadap melemahnya perekonomian dunia. Pascapandemi terdapat persoalan kronis di sektor ketenagakerjaan dan investasi, apalagi pengangguran dunia sangat tinggi.
Ilustrasi. Foto: RBS
Dia menyebut Anggaran Moneter Dunia (IMF) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi 2025 mencapai 3,3 persen. Sementara, pertumbuhan ekonomi AS dan Tiongkok pada tahun ini diproyeksikan melambat menjadi 2,7 persen dan 4,6 persen.
“Terlebih, IMF juga memprediksi Lampau lintas perdagangan dunia mungkin akan melambat menjadi 3,2% pada 2025,” ucap dia.
Abdul menilai gejolak geopolitik Dunia dinilai Lagi menjadi tantangan besar bagi perekonomian dunia. Ketegangan yang terjadi antara negara-negara besar seperti Amerika Perkumpulan, Tiongkok, Rusia, dan Uni Eropa, ditambah dengan konflik-konflik lain seperti Taiwan-Tiongkok dan Korea Selatan-Korea Utara, Bisa semakin memperburuk ketidakpastian Dunia.
“Kondisi ini dapat menyebabkan ketidakpastian Dunia semakin tinggi,” ungkap dia.
Di tengah situasi ekonomi seperti ini, Abdul menganalisis sektor ekonomi yang diuntungkan. Pertama, sektor yang connect langsung dengan ekonomi Dunia seperti pertanian dan komoditas.
Kedua, sektor ekonomi hijau. Demi itu, Abdul menilai, Indonesia perlu memanfaatkan potensi sektor-sektor tersebut di tengah progres hilirisasi yang telah dilakukan agar mendapatkan nilai tambah yang lebih optimal.