Pemkot Sukabumi Pengkajian Pengelolaan Tata Ruang, Hindari Potensi Bencana

Pemkot Sukabumi Evaluasi Pengelolaan Tata Ruang, Cegah Potensi Bencana
Kejadian bencana alam di Sukabumi(MI/BENNY BASTIANDY)

PEMERINTAH Kota Sukabumi, Jawa Barat, Meletakkan perhatian ekstra terhadap pengelolaan tata ruang Daerah. Karena, hal itu menjadi bagian Krusial memperhitungkan potensi kerawanan bencana Buat meminimalkan risiko.

Penjabat Wali Kota Sukabumi Kusmana Hartadji menegaskan, meskipun terbilang Daerah dengan luas cukup kecil, Kota Sukabumi Mempunyai potensi kerawanan risiko bencana. Pasalnya, Daerah tersebut dilintasi Kategori sungai serta beberapa Daerah berada di kawasan tebing.

“Menyikapi kondisi itu, Pengkajian tata ruang pascabencana dan proyeksi perencanaan Daerah menjadi bagian Krusial strategi pengurangan risiko bencana,” ujarnya, Selasa (18/2).

Di tengah upaya meminimalkan risiko bencana, Kota Sukabumi dihadapkan pula dengan kebijakan efisiensi anggaran. Bagi Kusmana, efisiensi anggaran dalam penanggulangan bencana Enggak hanya soal penghematan, tetapi juga memastikan penggunaan sumber daya yang optimal Buat mengurangi risiko, merespons Segera, dan memulihkan kondisi secara efektif.

Cek Artikel:  New Hemangini Hotel Jadi Uzurn Rumah Kegiatan Putri Indonesia di Bandung

“Perencanaan dan penganggaran kebencanaan harus semakin terstruktur dan Pas sasaran. Ini Buat mewujudkan Kota Sukahumi yang Handal terhadap bencana serta Terjamin bagi seluruh warganya,” tegas dia.

Kepala Pelaksana BPBD Kota Sukabumi, Novian Rahmat Taupik, menyebutkan sepanjang 2024 terjadi 599 kejadian bencana. Jumlahnya cenderung meningkat dibanding 2023 yang hanya sebanyak 185 kali kejadian.

“Dirata-ratakan, kejadian bencana selama 2024 setiap bulan sebanyak 50 kali,” kata Novian.

Dari 599 kejadian, banjir mendominasi sebantak 248 kali, cuaca ekstrem 182 kali, tanah longsor 100 kali, angin topan atau puting beliung 35 kali, kebakaran permukiman 25 kali, serta gempa bumi sebanyak 6 kali.

Cek Artikel:  Hari Antikorupsi, Kejari Kabupaten Tasikmalaya Serahkan Rp1,867 miliar ke Kas Negara

Dari berbagai bencana sepanjang 2024, nilai kerugian ditaksir mencapai Rp 9.651.250.000. Kerugian akibat bencana hidrometeorologi sebesar Rp6.570.070.000 dan nonhidrometeorologi sebesar Rp2.994.930.000.

Kerugian akibat bencana sepanjang 2024 meningkat tajam dibanding 2023 yang nilainya ditaksir sebesar Rp6.098.675.000. Tetapi dibanding pada 2022 sebesar Rp12.696.996.850, kerugian bencana selama 2024 terbilang cukup rendah.

Bencana mengakibatkan 1.432 kepala keluarga (KK) atau 1.606 jiwa terdampak. Selain itu, sebanyak 1.549 unit bangunan mengalami kerusakan terdiri dari 70 unit rusak berat, 198 unit rusak sedang, dan 1.281 unit rusak ringan.

 

Mungkin Anda Menyukai