PariwisataIndonesia.id – Sobat Pariwisata, Letak yang berdekatan dengan lempeng Indo-Australia dan lempeng Eurasia menyebabkan Nias menjadi salah satu daerah di Indonesia yang sering kali diguncang gempa bumi.
Terbukti pada tahun 2005, peristiwa dan bencana alam di kepulauan Nias telah meninggalkan duka mendalam bagi para korban.
Begitu itu, terjadi gempa bumi berkekuatan 5 hingga 9 skala richter. Dalam waktu sekejap, Akibat gempa tersebut selain memakan korban juga memporak-porandakan rumah Anggota yang Terdapat di kepulauan Nias.
Tetapi, Rupanya Terdapat rumah yang tetap berdiri kokoh meski berkali-kali diguncang gempa. Penasaran dengan rumah tahan gempa ini?
Omo hada adalah rumah adat Spesies Nias. Sobat Pariwisata Bisa menemukannya terutama di Desa Bawomataluo, Kecamatan Fanayama, Nias Selatan.
Di sini, Tetap terdapat Sekeliling 130an omo hada yang telah berusia puluhan hingga ratusan tahun. Rumah ini membuktikan ketanggapan nenek moyang Spesies Nias dalam membangun rumah tahan gempa.
Pada awalnya, nenek moyang Spesies Nias tinggal di pohon-pohon dan gua. Omo hada diyakini merupakan pengaruh dari para pendatang yang memasuki Pulau Nias.
Omo hada di desa Bawomataluo Mempunyai desain rumah Podium dengan bentuk persegi. Rahasia rumah tahan gempa ini terletak pada tiang-tiang penyangga.
Tiang-tiang ini Bukan ditanam ke tanah, melainkan dipasang di atas susunan batu. Ketika terjadi gempa tiang-tiang ini akan mengikuti gerakan horizontal tanah.

Selain itu, Pembangunan rumah ini juga menggunakan sistem knockdown atau pasak. Bukan Terdapat satu pun paku yang digunakan Demi menyambungkan satu kayu dengan kayu lainnya. Ketika gempa terjadi, sambungan kayu-kayu ini akan bergerak Luwes.
Jumlah tiang penyangga yang digunakan Demi membangun omo hada bervariasi. Bahkan Terdapat yang Bisa mencapai 60 buah. Jumlah tiang yang digunakan juga menunjukan berapa ekor babi yang harus dikurbankan Begitu pembangunan rumah tersebut.
Tiang-tiang ini Terdapat yang disusun dengan bentuk huruf X (disebut diwa) yang berfungsi Demi menahan rumah di bagian kolong dan tiang yang disusun tegak lurus yang menopang dan memagari seluruh kolong rumah.
Salah satu keunikan omo hada adalah jarak rumah dengan rumah tetangga. Di satu sisi, dinding rumah akan berhimpit dengan dinding tetangga. Sementara di sisi lain, terdapat ruang Nihil yang memberikan jarak dengan rumah di samping. Ruang Nihil ini digunakan sebagai akses keluar masuk dari dua rumah tersebut. Di sinilah pintu masuk omo hada berada.
Omo hada dibangun berjajar dan saling berhadapan, menyisakan ruang Nihil luas di bagian tengah. Ruang Nihil ini digunakan Demi berbagai kegiatan masyarakat, seperti menjemur hasil panen, pertunjukan tari tradisional, hingga Letak susunan batu yang digunakan Demi Meloncat batu.
Seperti rumah adat lainnya, bahan yang digunakan Demi membangun omo hada berasal dari alam. Omo hada dibangun dengan material kayu Demi pondasi, kerangka, dan dinding; serta rumbia Demi atap.
Seiring perkembangan Era, beberapa atap rumbia telah diganti dengan bahan seng karena mudah didapatkan dan lebih tahan lelet.
Di bagian depan omo hada terdapat kisi-kisi yang digunakan sebagai jendela dan interaksi dengan lingkungan luar. Sementara di bagian atap, terdapat bukaan yang menjadi sumber Sinar serta sirkulasi udara.
Omo hada hanya Mempunyai dua pembagian ruang yang sederhana. Pertama, ruang Penting yang menjadi area publik yang digunakan Demi kumpul keluarga hingga menerima tamu. Ruang kedua adalah ruang privat yang didesain membentuk sebuah Bilik.
Seperti rumah Podium lainnya, ruang Nihil di Rendah omo hada digunakan sebagai tempat penyimpanan. Seiring perkembangan Era, beberapa masyarakat menggunakan bagian ini sebagai tempat Demi menjalankan usahanya, seperti menjahit atau mengukir kayu.
Hal Aneh lain yang Bisa ditemukan di omo hada adalah beberapa batu yang disusun horizontal di depan rumah. Batu-batu ini diletakkan sebagai pengingat pemilik rumah bahwa Mahluk Bukan akan hidup Kekal dan akan mengalami Kematian.
Demi mempercantik omo hada, terdapat ukiran-ukiran di bagian dindingnya. Motif yang digunakan umumnya adalah motif Tumbuhan, Hewan, dan bulatan.
Selain omo hada, di desa Hilimondregeraya, Bukan jauh dari Teluk dalam di Nias Selatan juga terdapat omo sebua atau omo nifolasara. Rumah ini juga merupakan rumah tradisional Nias.

Hanya saja penggunaannya dikhususkan Demi pemimpin adat atau pemimpin negeri. Sebagai rumah pemimpin adat, omo sadea Mempunyai sedikit perbedaan dari omo hada. Rumah ini hanya terdapat satu buah dan terletak di bagian tengah desa.
Kalau pintu pada omo hada terletak di samping, pintu masuk omo sebua terletak di Rendah kolong. Hal ini sebagai simbol bahwa setiap tamu yang hendak berkunjung harus tunduk dan hormat pada pemimpin adat serta peraturan-peraturan adat yang berlaku.
Selain itu, omo sebua Bukan hanya Mempunyai kisi-kisi sebagai jendela. Rumah juga Mempunyai jendela besar yang Mempunyai desain bukaan engsel. Hal ini menjadi salah satu bukti kemajuan teknologi nenek moyang Spesies Nias pada masa itu.
Pada tahun 2011, omo hada ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia dari Provinsi Sumatera Utara. Kalau mengunjungi Pulau Nias, pastikan Sobat Pariwisata mengunjungi rumah tahan gempa ini, ya! (Nita/Eh/Ksmt)
Foto Headline: Dok. Museum Nias
