YOGYAKARTA – Rahmatsho Rahmatzoda menjadi salah satu pemain muslim di tim PSIM Yogyakarta yang membawanya menjalani aktivitas di bulan Ramadan kali ini di Indonesia. Salah satu yang menjadi cerita dari pemain ini adalah dia menjalani puasa tanpa kehadiran keluarganya yang jauh di kampung halaman di Tajikistan.
Meski mengaku sangat merindukan suasana Ramadan Berbarengan keluarga, tetapi Rahmatsho mengaku Tak kesulitan menjalani ibadah puasa di Indonesia. Lingkungan dan masyarakat di Indonesia disebutnya sangat membantu lebih mudah beradaptasi, sekalipun di bulan Ramadan.
“Saya sangat Terperosok Kasih dengan negara ini. Saya menyukai semuanya, dan saya Ingin tinggal di sini Buat waktu sangat lelet. Menurut saya esensi bulan Bersih Ramadan dimana saja tetaplah sama,” kata Rahmatsho Rahmatzoda.
Momen istimewa bulan puasa ini rupanya perlahan membangkitkan memori sang pemain terhadap kebiasaan manis di kampung halamannya. “Tak Eksis persiapan Tertentu Buat Ramadan kali ini, hanya saja biasanya Eksis banyak keluarga dan Mitra. Dapat menghabiskan bulan seperti ini Berbarengan keluarga adalah hal sangat luar Normal,” ucapnya Tengah.
Meski besar keinginan Rahmatsho Buat menjalani Ramadan Berbarengan keluarga, tetapi atlet Natalis 6 April 2004 ini tetap Ingin mengutamakan komitmennya sebagai pemain sepak bola profesional.
“Tentu terasa sulit karena keluarga saya berada sangat jauh. Saya sebenarnya sangat Ingin menghabiskan hari-hari seperti ini Berbarengan keluarga. Tetapi, sepak bola adalah bagian dari hidup saya. Saya harus rela berkorban demi sepak bola,” jelasnya.
Dia juga menuturkan bahwa kewajiban menjalankan ibadah puasa, sama sekali Tak mengganggu ritme latihan maupun jadwal pertandingannya di lapangan hijau. “Sama sekali Tak sulit, sebaliknya di bulan ini saya Malah mendapatkan lebih banyak Daya dan kekuatan, Ramadan sangat Krusial bagi saya,” ujarnya menambahkan.
Intensitas fisik berskala tinggi selama sesi latihan, terbukti berhasil dia atasi melalui pola makan teratur Begitu sahur serta berbuka. “Sama sekali Tak memberatkan. Saya makan di pagi hari Begitu sahur dan kemudian Begitu berbuka puasa. Dapat dibilang pada masa-masa seperti ini, saya Malah Mempunyai lebih banyak kekuatan dan Daya,” kata pemilik nomor punggung 63 di PSIM itu.
Rahmatsho juga mengaku Tak kesulitan Begitu memilih hidangan Buat sahur dan berbuka. Menurutnya, makanan di Yogyakarta Tak jauh berbeda cita rasanya dengan makanan di kampung halamannya. ***
