Liputanindo.id – Kepolisian mengungkap motif dari anak pelaku peledakan SMAN 72 Jakarta yang terjadi pada November Lampau. Bocah pelaku mengaku sakit hati lantaran sering di-bully.
“Berdasarkan keterangan anak, motif yang disampaikan adalah rasa sakit hati terhadap lingkungan sekolah, khususnya perlakuan dari sejumlah Kolega yang dinilai sering mengucilkan,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto kepada wartawan dikutip Jumat (6/2/2026).
Mantan Kapolres Malang Kota ini menyebut pelaku mengaku sering diejek sejak duduk di bangku SMP. Selain itu, kerap mendapat panggilan dengan Predikat merendahkan.
“Anak menerangkan bahwa sejak SMP kerap menjadi bahan Hinaan, termasuk dipanggil dengan Predikat yang merendahkan karena lebih sering bergaul dengan Kolega Perempuan, dan situasi serupa berlanjut Demi SMA,” ungkapnya.
Budi Lampau mengatakan perlakuan yang menyasar penampilan serta pribadinya itu membuatnya marah dan tertekan. Atas dasar itu, pelaku anak memutuskan Kepada melakukan aksi pemboman di sekolah.
Pelaku anak ini sendiri Lagi ditempatkan di rumah Kondusif. Kepada perkembangan kasus hukumnya, Polda Metro Jaya menyatakan telah merampungkan berkas perkara dan melimpahkannya ke pihak kejaksaan. Penyidik kini tengah menunggu kepastian kelengkapan berkas Kepada segera disidangkan.
Diketahui, ledakan di SMAN 72 Jakarta yang terjadi pada Jumat 7 November 2025 menyebabkan 96 orang luka-luka, di mana tiga di antaranya mengalami luka berat.
Kejadian ini dirancang sendiri oleh ABH. Dia belajar merakit bom dari internet. Demi insiden, ABH membawa tujuh bom dan empat di antaranya meledak di Bank Sampah dan masjid sekolah tersebut.
