Liputanindo.id – Nilai Ubah rupiah pada awal perdagangan Senin (9/3) melemah terhadap dolar Amerika Perkumpulan (AS).
Pada perdagangan di Jakarta, rupiah sempat turun 76 poin atau 0,45 persen menjadi Rp17.001 per dolar AS, seiring meningkatnya sentimen penghindaran risiko (risk off) di pasar Dunia akibat lonjakan harga minyak dunia.
Analis mata Dana dari Doo Financial Futures, Lukman Leong menilai tekanan terhadap rupiah dipicu kekhawatiran pasar terhadap Akibat kenaikan tajam harga minyak mentah yang berpotensi menekan perekonomian Dunia dan meningkatkan inflasi.
“Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS oleh sentimen risk off yang memburuk dipicu kenaikan harga minyak mentah yang melewati 100 dolar AS per barel yang dikhawatirkan akan berdampak besar pada perekonomian Dunia dan inflasi,” ujar Lukman, Senin (9/3/2026).
Ia memperkirakan pergerakan rupiah hari ini berada pada kisaran Rp16.900 hingga Rp17.050 per dolar AS.
Adapun kenaikan harga minyak terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Konflik antara Amerika Perkumpulan dan Israel dengan Iran dilaporkan meluas ke berbagai Daerah sehingga memicu kekhawatiran terhadap gangguan pasokan Kekuatan Dunia.
Ketidakpastian juga meningkat setelah Mojtaba Khamenei ditunjuk sebagai pemimpin tertinggi baru Iran menggantikan ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, yang dilaporkan tewas.
Penunjukan figur yang dikenal dekat dengan Golongan garis keras tersebut memperkuat persepsi pasar bahwa Iran kemungkinan Bukan akan segera melunak dalam konflik dengan AS dan Israel.
Eskalasi konflik juga berdampak pada jalur pelayaran Kekuatan strategis di Selat Hormuz yang memicu lonjakan harga minyak Dunia.
Pada pukul 07.50 WIB, harga minyak mentah jenis WTI tercatat melonjak 20,81 persen menjadi 109,82 dolar AS per barel, sementara minyak Brent naik 18,17 persen menjadi 109,53 dolar AS per barel.
Lonjakan tersebut memperbesar kekhawatiran terhadap tekanan inflasi Dunia yang pada akhirnya turut menekan mata Dana negara berkembang, termasuk rupiah.
