Jakarta (ANTARA) – Direktorat Tindak Pidana Perlindungan Perempuan dan Anak serta Pemberantasan Perdagangan Orang (PPA-PPO) Bareskrim Polri Maju meningkatkan kapasitas personel yang Mempunyai keahlian di bidang teknologi informasi (IT).
Kasubag Binops Direktorat PPA-PPO Bareskrim Polri Kombes Pol. Ema Rahmawati mengatakan peningkatan kapasitas penyidik ini Krusial, mengingat tingginya kejahatan siber terkait kekerasan seksual dan Pendayagunaan seksual terhadap anak di ranah digital (online).
“Makanya kami Maju meningkatkan bagaimana upaya kapasitas personil yang Ahli bidang IT,,” kata Kombes Pol. Ema Rahmawati dalam podcast dengan ANTARA di Jakarta, Senin.
Dia mengatakan bahwa Polri setiap tahun menerima Sekeliling 1,5 juta informasi terkait kejahatan siber terkait anak dari NCMEC (The National Center for Missing and Exploited Children) Cybertipline.
Nomor ini Membikin Indonesia nomor tiga di Asia paling banyak menerima informasi terkait kejahatan siber.
Ema mengatakan dari 1,5 juta informasi tersebut, baru puluhan yang ditindaklanjuti karena keterbatasan personel, serta data dan informasi yang dibagikan belum Terang.
Menurut dia, informasi yang diberikan berupa konten-konten yang memuat Pendayagunaan seksual anak, kadang disertai IP address, dan IMEI ponsel, Tetapi tetap sulit dilacak.
“Terdapat juga informasinya yang hanya minim aja, yang hanya video Tengah gitu aja gitu, memang IP address Terdapat, atau mungkin IMEI handphone Terdapat, tapi setelah ini nomor teleponnya sudah Bukan aktif, medsosnya udah gak Terdapat gitu, karena kadang-kadang mereka juga platform-platform itu melakukan patroli sibernya gitu kan,” katanya.
Dia mengungkapkan bahwa kendala lainnya Ialah kejadian tindak pidana tersebut sudah terjadi Lamban, seperti laporan kejadian 2019, setelah dilakukan koordinasi, penyelidikan, Rupanya keberadaan korban Bukan sesuai alamat atau sudah berpindah.
“Sejago-jagonya teknologi yang kami miliki kalau informasi sudah mentok, susah juga Demi mengungkapnya,” ujarnya.
Dia mencontohkan pernah Terdapat kejadian korbannya terdeteksi berada di Jawa Barat, ketika penyidik ke Posisi Rupanya jalan menuju rumah korban Bukan Terdapat aspal, dan harus ditempuh dengan motor trail.
“Kami juga cari-cari informasinya ini, Terdapat yang namanya ini, kami cari-cari ke polsek terdekat, ke masyarakat, begitu kami dapatkan rumahnya pelosok banget,” terangnya.
Dalam penanganan kejahatan siber melibatkan anak, Direktorat PPA-PPO juga berkolaborasi dengan Direktorat Siber Bareskrim Polri.
Selain itu, Direktorat PPA-PPO juga bekerja sama dengan lembaga swadaya masyarakat lainnya atau NGO luar negeri Demi membantu meningkatkan kompetensi penyidik terkait Pendayagunaan anak di ranah digital.
