Liputanindo.id – Kisah Konkret tentang operasi pembebasan 36 sandera di Selat Malaka pada 2004 oleh TNI AL diangkat menjadi Gambar hidup layar lebar lewat judul The Houstage’s Hero. Kisah Konkret penuh ketegangan ini berada di Dasar operasi komando Laksamana Madya TNI (Purn) Achmad Taufiqoerrochman.
Taufiqoerrochman mengatakan awal kisah heroiknya ini dilirik oleh industri perfilman, bermula dari keinginan Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL), Laksamana TNI Muhammad Ali. Demi itu, Kasal menugaskan Pengarah adegan dan produser Demi menemuinya di Sukabumi.
“Kalau cerita, jadi mungkin ini diawali dengan inisiatif Kasal Demi mengangkat kisah ini menjadi Gambar hidup ya. Ditugaskanlah produser dengan Pengarah adegan ke tempat saya, ke Sukabumi itu. Kemudian saya cerita, ya dari cerita melengkapi dari Kitab, dibuatlah skrip,” kata Laksamana Madya TNI (Purn.) Taufiqoerrochman dalam jumpa pers di Epicentrum, Jakarta Selatan, Senin (30/3).
Sejak pertemuan itu, Taufiq pun terlibat dalam proses penyusunan skenario Berbarengan dengan Kepala Dinas Sejarah Angkatan Laut (Kadisjarahal) Laksamana Pertama TNI I Made Wira Hady Arsanta Wardhana. Ia pun memastikan kisah yang ditulisnya ini Bukan lepas dari fakta sejarah yang juga Dapat menjadi sarana edukatif Demi penonton.
“Jadi kami akan padukan ini, kata-katanya padukan bahasa operasi dengan bahasa sineas. Ketemulah itu. Makanya saya Paham persis itu yang dilaksanakan. Kemudian kami tulis, saya sendiri yang nulis itu ya, kemudian diolah oleh Pengarah adegan,” Terang Taufiqoerrochman.
Tetapi di sisi lain, Taufiq yang Bukan pernah terjun langsung ke industri perfilman ini membutuhkan sentuhan drama agar karya yang disuguhkan Bukan terkesan kaku seperti Gambar hidup sejarah di perpustakaan. Ia memberikan keleluasaan Revo S Rurut Demi merangkai alur cerita selama garis merah sejarahnya tetap terjaga.
“Kalau murni cerita saya kan dokumenter gitu, bukan Kembali tontonan, nanti di museum saja gitu. Tapi karena Demi di bioskop, maka saya serahkan ke insan perfilman. Saya kan enggak Paham, tapi saya kasih garis merahnya ini,” tambahnya.
Lebih lanjut, purnawirawan bintang tiga ini membagikan cerita soal kompleksnya tugas menjaga Daerah laut yang sangat berbeda dengan daratan. Menurutnya, laut punya Ciri Istimewa karena Bukan Mempunyai batas fisik yang kasat mata.
“Laut itu agak Istimewa gitu ya. Kalau di darat Eksis batas Daerah, makanya demarkasi kan, Eksis mark gitu, Eksis tugu, Eksis dan sebagainya. Kalau di laut Eksis enggak tuh? Maka adalah delimitasi. Jadi Restriksi di sini, di sini koordinat sekian gitu kan,” papar Laksamana Madya TNI (Purn.) Taufiqoerrochman.
Baginya, pengamanan laut sangat bergantung pada ketepatan waktu dan penempatan armada.
“Watak operasinya itu, laut itu Bukan Dapat dipagari, Bukan Dapat diduduki. Laut hanya Dapat dikendalikan. Mengendalikan yang terbaik adalah menggelar kekuatan pada waktu dan posisi Benar. Jangan Tiba kita datang orang enggak Eksis, nggak Eksis artinya kan!” jelasnya.
The Hostage’s Hero adalah Gambar hidup drama aksi militer yang diangkat dari kisah Konkret operasi pembebasan sandera di Selat Malaka tahun 2004. Gambar hidup ini berfokus soal ketegangan di atas kapal MT Pematang yang dikuasai oleh perompak bersenjata.
Konsentrasi Primer cerita mengikuti kepemimpinan (Demi itu) Letkol Taufiq, perwira TNI Angkatan Laut yang cerdas dan berani, dalam merancang strategi pembebasan yang mustahil.
Dengan taruhan 36 sandera, Letkol Taufiq dan timnya di KRI Karel Satsuitubun-356 berpacu dengan waktu dan gelombang laut yang ganas Demi meluncurkan serangan mendadak demi membawa pulang para sandera dengan selamat.
Gambar hidup ini siap tayang pada 2 April di bioskop, dibintangi Donny Alamsyah, Rifky Balweel, Asri Welas, Bang Tigor, Aditya Herpavi, Chocky Sitohang, Ritassya Wellgreat, dan Brata Santoso.
