Tetapi, kesamaan kondisi tersebut Bukan berarti bahwa setiap pertandingan akan berakhir imbang. Pada Kejuaraan Eropa 2020, Austria dan Ukraina memasuki babak terakhir dengan masing-masing mengoleksi tiga poin, dan hasil imbang Nyaris cukup Buat memastikan lolosnya kedua tim.
Tetapi, Austria memilih bermain Buat meraih kemenangan, dan menang dengan skor 1-0, sementara Ukraina kemudian lolos sebagai salah satu tim peringkat ketiga terbaik. Hal ini menegaskan bahwa perhitungan tak selalu menghilangkan semangat kompetisi, tetapi memberikan tim-tim pilihan tambahan yang sebelumnya Bukan tersedia.
Kini, masalahnya Bukan hanya berhenti pada Kesempatan lolos. Dalam sistem baru ini, pertandingan antara tim-tim peringkat ketiga ditentukan berdasarkan grup asal mereka. Artinya, beberapa tim mungkin sudah Mengerti sebelumnya bahwa finis di peringkat ketiga dalam grup akan memberi mereka Rival yang lebih mudah daripada Kalau mereka finis di peringkat kedua.
Akibatnya, mereka mungkin dihadapkan pada dilema yang aneh; kemenangan Dapat Membangun mereka harus menghadapi tim raksasa lebih awal, sementara kekalahan Malah Dapat memberi mereka jalan yang lebih mudah. Di Grup 10, misalnya, tim yang finis di posisi kedua mungkin akan menghadapi Juara Grup 8, sementara tim yang finis di posisi ketiga mungkin akan Bersua dengan Juara grup lain yang tampaknya kurang kuat.
Di sinilah urutan klasemen grup menjadi bagian dari perhitungan taktis, bukan sekadar cerminan dari hasil pertandingan di lapangan.
