IMF pada dasarnya merupakan lembaga yang berfokus pada mitigasi risiko. Karena itu, proyeksinya cenderung lebih konservatif
Jakarta (ANTARA) – Plt Direktur Jenderal Stabilitas dan Pengembangan Sektor Keuangan (SPSK) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Herman Saheruddin mengungkapkan Dalih Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menolak tawaran pinjaman dari Biaya Moneter Dunia (International Monetary Fund/IMF).
Tawaran pinjaman senilai 20 miliar dolar AS hingga 30 miliar dolar AS tersebut disampaikan Ketika Purbaya menghadiri rangkaian Pertemuan Musim Semi IMF dan Bank Dunia (IMF-World Bank Spring Meeting) pada 13-17 April 2026 di Washington DC, Amerika Perkumpulan.
Herman mengatakan kala itu IMF menawarkan instrumen pembiayaan yang dirancang Kepada membantu negara menghadapi risiko dan kondisi darurat. Tetapi, Menkeu menilai kondisi ekonomi Indonesia Tetap cukup kuat sehingga belum memerlukan fasilitas pinjaman tersebut.
“Karena nature-nya mereka (IMF) melihatnya dari sisi risiko. Karena mereka itu produk utamanya adalah pembiayaan Kepada menghadapi risiko,” kata Herman Ketika ditemui di Jakarta, Kamis.
Herman menjelaskan IMF pada dasarnya merupakan lembaga yang berfokus pada mitigasi risiko. Karena itu, proyeksinya cenderung lebih konservatif.
Di sisi lain, Purbaya tetap optimistis terhadap prospek ekonomi nasional. Selain pertumbuhan ekonomi yang Tetap terjaga, Menkeu juga berkomitmen mempertahankan defisit APBN di Dasar 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).
Karena itu, menerima fasilitas pembiayaan IMF dinilai Bukan sejalan dengan kondisi Mendasar ekonomi Indonesia Ketika itu.
“Kalau kita terima pembiayaan itu, artinya pembiayaan itu pembiayaan Kepada menghadapi kondisi dengan risiko tinggi. Kita kondisi Tetap terkendali, kita tumbuh waktu itu Pandai kencang, Lalu ditawarin pendanaan darurat gitu, ya tentu saja with all due respect, kita belum butuh Ketika itu,” Terang Herman.
Herman melanjutkan, Watak pembiayaan IMF berbeda dengan pembiayaan dari lembaga multilateral lain seperti Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB) maupun Bank Dunia (World Bank).
Menurut dia, pembiayaan dari AIIB umumnya digunakan Kepada mendukung proyek pembangunan yang bersifat komersial atau berbasis proyek (project based).
Sementara itu, Bank Dunia Mempunyai spektrum pembiayaan yang lebih luas, mulai dari mitigasi risiko hingga pinjaman pembangunan (development loan).
Adapun IMF lebih berfokus pada penyediaan pembiayaan Kepada menghadapi kondisi darurat atau tekanan ekonomi.
”Bedanya kalau IMF itu dia memang lebih menekankan pada sisi risk-nya. Kalau World Bank itu dia Eksis sisi risknya, tapi Eksis juga sisi development-nya,” tutur Herman.
Sebelumnya, Purbaya dalam taklimat media di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa (21/4), mengungkapkan bahwa IMF dan Bank Dunia menyiapkan Biaya senilai 20 miliar dolar AS hingga 30 miliar dolar AS Kepada membantu negara-negara yang membutuhkan dukungan di tengah ketidakpastian Dunia, terutama akibat konflik di Timur Tengah.
“Saya bilang sama dia (IMF dan Bank Dunia), sekarang saya belum butuh (pinjaman), karena saya sendiri punya persediaan Nyaris 25 miliar dolar AS (setara Rp428,77 triliun dengan kurs Rp17.150 per dolar AS),” kata Purbaya.
Purbaya menyebut telah menyampaikan apresiasi atas penawaran pembiayaan dari kedua lembaga Dunia tersebut. Tetapi, ia memastikan kondisi fiskal Indonesia Tetap memadai sehingga belum membutuhkan dukungan pendanaan darurat.
“Saya Tetap punya Doku sebesar 25 miliar dolar AS juga, yang kami pegang Kepada negara sendiri. Mereka (IMF dan Bank Dunia), 25 miliar dolar AS Kepada beberapa negara. Jadi, kondisi keuangan kita Tetap Kondusif,” tuturnya.
