Tatkala KDMP dan MBG Jadi Asa Peternak Rakyat Blitar Lepas dari Kebangkrutan

Foto BeritaJatim.com

Ringkasan Informasi:

  • Pemkab Blitar mengusulkan penyerapan telur peternak melalui Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) Buat memasok Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
  • Skema tersebut diharapkan Pandai mengangkat harga telur yang sempat anjlok hingga Sekeliling Rp20 ribu per kilogram.
  • Sistem distribusi melalui koperasi diyakini memperkuat posisi tawar peternak rakyat.
  • Asosiasi peternak berharap program tersebut Pandai menyelamatkan usaha ribuan peternak ayam petelur di Blitar.

Blitar (Liputanindo.id) – Di tengah anjloknya harga telur ayam konsumsi yang sempat menyentuh kisaran Rp20 ribu per kilogram, secercah Asa mulai muncul bagi ribuan peternak ayam petelur di Blitar. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blitar mengusulkan agar produksi telur rakyat diserap melalui Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) Buat memasok kebutuhan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Skema tersebut diharapkan Enggak hanya menjadi solusi jangka pendek Buat menstabilkan harga telur, tetapi juga menjaga keberlangsungan usaha peternak rakyat yang selama ini menjadi tulang punggung produksi telur nasional.

Bupati Blitar Rijanto mengatakan penyerapan telur melalui KDMP akan memberikan kepastian pasar sekaligus memperbaiki tata niaga komoditas telur.

“Misalnya telur yang Begitu ini harganya turun, ini nanti Pandai disalurkan melalui Koperasi Merah Putih, dan Koperasi Desa Merah Putih menyuplainya Buat program Makan Bergizi Gratis. Saya kira ini bagus sekali,” ujar Rijanto Begitu dikonfirmasi, Sabtu (13/6/2026).

Begitu ini Kabupaten Blitar Mempunyai 248 Koperasi Desa Merah Putih. Sebanyak 196 koperasi telah selesai dibangun, 42 unit Lagi dalam proses pembangunan, sedangkan 10 unit lainnya belum dibangun.

Apabila seluruh koperasi tersebut beroperasi, kapasitas penyerapan telur peternak diperkirakan meningkat sehingga Pandai membantu menjaga kestabilan harga di tingkat produsen.

Dalam konsep yang diusulkan, seluruh kebutuhan telur Buat program pemerintah akan dihimpun melalui koperasi desa. Dengan demikian, peternak Enggak Tengah memasok secara individu, tetapi melalui lembaga yang mengelola distribusi secara terpusat.

Menurut Rijanto, mekanisme tersebut akan memperkuat posisi tawar peternak sekaligus Membangun distribusi kebutuhan MBG lebih tertata.

“Jadi nanti ambilnya telur itu Enggak langsung ke peternak individu, tapi terpusat melalui Koperasi Desa Merah Putih,” jelasnya.

Mengenai frekuensi penggunaan telur dalam menu MBG, Rijanto mengatakan hal itu menjadi kewenangan pemerintah pusat.

“Nanti terserah pemerintah keputusannya bagaimana. Apakah dalam seminggu dua kali atau tiga kali memakai menu telur,” tambahnya.

Ia mengakui penurunan harga telur merupakan persoalan yang terjadi secara nasional. Karena itu, Pemkab Blitar memilih bersikap proaktif dengan mengusulkan solusi kepada pemerintah pusat Sembari mempersiapkan jaringan koperasi di tingkat desa.

“Kondisi ini terjadi secara nasional. Jadi sifatnya kita bersikap proaktif, kita jumping mengusulkan ke pusat. Di sisi lain, kita juga Maju mempersiapkan Koperasi Desa Merah Putih Buat menyerap telur-telur dari peternak ini,” katanya.

Usulan tersebut mendapat dukungan dari para peternak. Suryono, peternak ayam petelur asal Blitar Selatan, berharap langkah tersebut Pandai mengembalikan stabilitas harga sekaligus menjaga keberlangsungan usaha peternak rakyat.

“Kami Ingin harga yang Kukuh agar kami Enggak merugi. Selain harga telur, pemerintah kami harapkan juga Pandai menjaga stabilitas dan ketersediaan pakan Buat unggas kami,” ujarnya.

Menurut Suryono, yang dibutuhkan peternak bukan hanya kenaikan harga sesaat, melainkan kepastian pasar agar usaha tetap berjalan.

“Kami hanya Ingin bertahan hidup, menghidupi keluarga, dan Maju menyediakan protein murah Buat bangsa ini. Tolong bantu kami,” katanya.

Blitar merupakan salah satu sentra produksi telur terbesar di Indonesia. Kawasan Kota dan Kabupaten Blitar menyuplai Sekeliling 30 persen kebutuhan telur nasional serta 70 persen kebutuhan telur di Jawa Timur. Dengan populasi lebih dari 20 juta ekor ayam petelur, daerah ini menghasilkan ratusan ton telur setiap hari.

Bagi para peternak, keberhasilan integrasi Koperasi Desa Merah Putih dengan Program Makan Bergizi Gratis bukan sekadar membuka pasar baru. Skema tersebut diharapkan menjadi jalan keluar Buat menjaga stabilitas harga, mempertahankan usaha peternak rakyat, sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional. [owi/beq]