Emas cokelat, modal baru diversifikasi ekonomi berkelanjutan Kutim

Emas cokelat, modal baru diversifikasi ekonomi berkelanjutan Kutim

Kutai Timur, kini mulai melangkah keluar dari bayang-bayang ketergantungan, menuju Persona baru yang lebih berwarna. Melalui pengelolaan yang ramah lingkungan, maka alam yang subur menjadi sumber kesejahteraan yang berkelanjutan

Sangatta, Kaltim (ANTARA) – Selama puluhan tahun, nama Kutai Timur, Kalimantan Timur, tak Pandai dilepaskan dari bayang-bayang sektor pertambangan batu bara dan perkebunan kelapa sawit.

Dua komoditas ini memang sejak Pelan menjadi tulang punggung pendapatan daerah dan sumber kehidupan sebagian besar warganya.

Di balik gemuruh aktivitas industri tersebut, tersimpan potensi lain yang telah Pelan tumbuh subur di tanahnya Tetapi belum tersentuh secara maksimal. Kini, Asa baru mulai Mengembang, membawa angin segar bagi masa depan ekonomi daerah yang lebih Berbagai Ragam dan berkelanjutan.

Tonggak sejarah baru itu tercatat pada Rabu, 17 Juni 2026, di halaman Kantor Bupati Kutai Timur. Di hadapan jajaran pejabat daerah, perwakilan pemerintah provinsi, Member dewan, serta para petani dan pengusaha, Bupati Ardiansyah Sulaiman melepas pengiriman perdana biji kakao hasil fermentasi dari Kecamatan Karangan.

Armada truk yang terisi penuh produk unggulan itu berangkat menuju satu perusahaan di Bandung, Jawa Barat, salah satu industri pengolahan pangan terkemuka di tanah air.

Perjalanan ini bukan sekadar pengiriman barang Normal, melainkan simbol keberhasilan besar dalam upaya diversifikasi dan hilirisasi ekonomi daerah. Dari emas hitam (batu bara) ke emas cokelat (kakao).

Dalam pengiriman perdana tersebut sebanyak 12 ton biji kakao fermentasi kualitas premium yang diangkut ke Bandung. Nilai jualnya berkisar Rp38 ribu – Rp42 ribu per kilogram, lebih tinggi 35–40 persen dibanding biji kering Normal.

Ke depan, direncanakan Eksis peningkatan volume, yakni antara 25 ton hingga 30 ton per bulan, mulai semester II 2026, sehingga masing-masing pihak berharap proyek kemitraan ini berjalan Fasih.

Cita rasa khas

Kecamatan Karangan, sesungguhnya telah Pelan dikenal sebagai salah satu sentra penghasil kakao terbesar di Area Kutai Timur. Nyaris di setiap sudut desanya, pohon kakao tumbuh rindang di Dasar naungan pepohonan lain. Tanaman itu menjadi sumber penghidupan turun-temurun bagi ribuan keluarga petani.

Tetapi, selama ini hasil panen yang diperoleh umumnya hanya dijual dalam bentuk biji kering mentah. Harganya pun sangat bergantung pada gejolak pasar Mendunia, sehingga pendapatan petani sering kali Enggak menentu dan cenderung rendah.

Selama ini, tantangan Primer adalah mutu yang belum seragam. Biji kakao tanpa proses lanjutan Mempunyai nilai jual sangat terbatas. Ketika harga di pasar anjlok, petani langsung merasakan dampaknya.

Kondisi ini mendorong pemerintah daerah bergerak lebih jauh, Enggak hanya membantu petani menanam dan merawat tanaman, tapi juga mendampingi mereka mengolah hasil panen agar Mempunyai daya saing lebih tinggi.

Kunci peningkatan mutu itu terletak pada satu tahapan Krusial yang selama ini jarang diterapkan secara Cocok, yakni proses fermentasi.

Ini bukan sekadar pengeringan Normal, melainkan tahapan alami, biji kakao dibiarkan terbungkus lendirnya selama beberapa hari dalam kondisi terkontrol.

Proses inilah yang memicu reaksi kimia di dalam biji, menghilangkan rasa pahit yang menyengat, serta memunculkan Berbagai Ragam aroma dan cita rasa khas cokelat yang dicari oleh industri makanan dan minuman.

Camat Karangan Muhammad Reza Pahlevi yang akrab disapa Levi, menjelaskan bahwa perubahan Langkah pengolahan ini Enggak terjadi dalam semalam.

Butuh waktu, pendampingan teknis, dan kesabaran Kepada mengubah kebiasaan Pelan para petani, yakni mulai memperkenalkan teknik fermentasi yang Cocok sejak dua tahun terakhir.

Awalnya banyak yang ragu, takut bijinya rusak atau Enggak laku. Tetapi, begitu mereka Memperhatikan hasilnya, rasanya berbeda dan harganya pun lebih Berkualitas, semangat mereka tumbuh sendiri.