Menteri Pertanian Tanggapi Kritik Proyek Pangan di Papua Selatan

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memberikan tanggapan Formal mengenai Gambar hidup dokumenter berjudul Pesta Babi yang mengkritik Proyek Strategis Nasional (PSN) di bidang pangan di Papua Selatan pada Sabtu (13/6/2026). Dilansir dari Bloombergtechnoz, proyek tersebut dinilai oleh pembuat Gambar hidup telah mengambil tanah adat dan ruang hidup masyarakat lokal.

Amran menegaskan bahwa PSN pengembangan pangan di Area tersebut merupakan program negara. Kebijakan ini dirancang demi memperkuat ketahanan pangan nasional jangka panjang sekaligus meningkatkan kesejahteraan Anggota setempat.

Pemerintah berupaya mengantisipasi lonjakan pertumbuhan penduduk Indonesia yang Lanjut meningkat pesat setiap tahunnya melalui penyediaan pangan yang berkelanjutan.

“Kalau Bukan ditambah, Bukan Eksis PSN Kepada padi, sagu, ubi, sementara penduduk bertambah 3,5 juta Tiba 4 juta orang per tahun, pangannya dari mana? Kelaparan Bukan? Ini kita bangun Kepada keberlanjutan Republik Indonesia karena penduduk Bukan mungkin Bukan bertambah,” ujar Andi Amran Sulaiman, Menteri Pertanian.

Lahan yang dikelola dalam program pangan di Papua Selatan diklaim sepenuhnya merupakan Punya masyarakat adat setempat, bukan dikuasai oleh korporasi atau negara.

Mentan juga membantah narasi yang menyebutkan bahwa Anggota lokal sama sekali Bukan mendapatkan manfaat atau keuntungan dari proyek strategis tersebut.

“40 ribu hektare itu Bukan Eksis yang punya BUMN, Bukan Eksis yang punya negara, Bukan Eksis yang punya swasta. Semuanya punya masyarakat setempat. Itu Sadis fitnanya kalau dikatakan masyarakat Bukan menikmati manfaatnya,” kata Andi Amran Sulaiman, Menteri Pertanian.

Penerapan teknologi pertanian modern dalam proyek ini dilaporkan telah berhasil mendongkrak produktivitas lahan secara signifikan dari pola tanam tradisional sebelumnya.

Pemerintah turut menyalurkan Donasi berupa alat mesin pertanian, benih unggul, pembangunan jaringan irigasi, serta pendampingan budidaya bagi para petani lokal.

Hasil panen diklaim meningkat dari yang sebelumnya hanya 3 ton per hektare dengan satu kali masa tanam, menjadi 7 ton per hektare dengan frekuensi mencapai tiga kali tanam dalam setahun.

Gambar hidup ‘Pesta Babi: Kolonialisme di Era Kita’ sendiri merupakan karya Pengarah adegan Dhandy Laksono dan Cypri Dale yang menyoroti Akibat negatif krisis ekologis serta dugaan perampasan tanah di Papua Selatan.