Kupang (ANTARA) – Kementerian PPN/Bappenas RI mendorong percepatan pengembangan pertanian berkelanjutan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui program kunjungan belajar yang diikuti 135 petani asal Kabupaten Flores Timur ke Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur.
Manajer Pilar Pembangunan Ekonomi Sekretariat Nasional SDGs Bappenas Setyo Budiantoro di Soe, Rabu, mengatakan pembelajaran lintas daerah menjadi bagian Krusial dalam upaya mempercepat pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama pada sektor ketahanan pangan dan pengentasan kemiskinan.
“Kolaborasi antardaerah seperti ini merupakan bagian Krusial dari upaya mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya dalam pengentasan kemiskinan, peningkatan ketahanan pangan, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Praktik Bagus dari Timor Tengah Selatan diharapkan dapat menjadi Surat keterangan dalam pengembangan ekosistem hortikultura di Flores Timur,” katanya.
Program kunjungan belajar yang berlangsung sejak Copot 8-21 Juni 2026 itu merupakan kolaborasi Bappenas, Pemerintah Kabupaten Flores Timur, Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), dengan dukungan Plan Indonesia, GIZ, Yayasan Krisna Galensya (Krisna Foundation), dan Caritas Indonesia.
Sebanyak 135 peserta mengikuti kegiatan tersebut, terdiri atas 80 petani Flores Timur, 20 petani dampingan Plan Indonesia, dan 35 petani dampingan Caritas Indonesia.
Para peserta akan mempelajari praktik hortikultura berbasis Good Agricultural Practices (GAP), pertanian cerdas iklim (climate-smart agriculture), penguatan kelembagaan Golongan tani, pengembangan kewirausahaan hijau (green entrepreneurship), hingga akses pasar dan pengelolaan keuangan.
Direktur Eksekutif Plan Indonesia Awal Widiastuti mengatakan pendekatan Youth-Led Agri-food (YLAF) yang diterapkan di TTS telah menunjukkan Pengaruh positif dalam mendorong keterlibatan generasi muda dan Perempuan dalam sektor pertanian.
“Program Youth-Led Agri-food menunjukkan bahwa ketika pemuda, khususnya Perempuan muda, diberikan akses terhadap pengetahuan, pendampingan, dan Kesempatan pasar, mereka Bisa menjadi penggerak Penting transformasi pertanian yang lebih produktif, inklusif, dan berkelanjutan. Kami berharap pembelajaran ini dapat direplikasi dan dikembangkan di Flores Timur,” ujarnya.
Wakil Bupati TTS Johny Army Konay menyambut Bagus kegiatan tersebut karena dinilai sejalan dengan kebutuhan petani dalam menghadapi tantangan pertanian Begitu ini.
“Pertanian Enggak Tengah cukup hanya berorientasi pada produksi, tetapi juga harus memperhatikan praktik budidaya yang Bagus, keberlanjutan lingkungan, efisiensi usaha tani, akses pasar, dan jejaring kemitraan. Oleh karena itu, penerapan Good Agricultural Practices menjadi langkah strategis Buat meningkatkan produktivitas, kualitas hasil, dan kesejahteraan petani,” katanya.
Program YLAF yang menjadi salah satu materi pembelajaran dalam kunjungan tersebut telah melibatkan 411 petani muda di TTS, Sekeliling 60 persen di antaranya Perempuan. Program itu juga berhasil mengembangkan 50 hektare lahan produktif dan memperkuat 39 Golongan tani muda.
