Korut: Mengapa Xi Jinping berada di Korea Utara?

Xi (L) and Kim (R) can be seen here standing on a podium, with their wives behind them

Beijing tengah berusaha menegaskan kembali pengaruhnya atas Kawan yang secara strategis sangat Krusial, Tetapi juga sulit diprediksi.

Presiden China Xi Jinping berjanji akan mempererat Interaksi dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un dalam kunjungan kenegaraan langka ke Pyongyang.

Kerumunan massa yang bersorak Sembari meneriakkan kata sambutan dalam bahasa Korea dan Mandarin memenuhi jalan-jalan ibu kota—mulai dari bandara hingga Lapangan Kim Il Sung di pusat kota, tempat Laskar kehormatan militer sudah menunggu.

Sebuah spanduk besar di Posisi menggambarkan ikatan kedua negara sebagai “tak tergoyahkan”.

Xi mengatakan kepada Kim bahwa dia bersedia bekerja sama Demi membawa Interaksi kedua negara ke “tingkat yang lebih tinggi”.

Tetapi, Interaksi Beijing–Pyongyang Kagak selalu seerat ini.

Kunjungan Xi kali ini dipandang lebih dari sekadar menegaskan kembali ikatan antarnegara tetangga, melainkan juga sarat dengan Arti geopolitik yang lebih luas.

LIHAT VIDEO: Mengapa Presiden China Xi Jinping berkunjung ke Korea Utara?

Bagi Xi, Korea Utara adalah tetangga yang Kagak Dapat sepenuhnya dikendalikan, Tetapi juga Kagak Dapat dilepaskan.

Kedua negara kerap menggambarkan Interaksi mereka sebagai “terjalin dalam darah”, merujuk pada Perang Korea.

Tetapi dalam beberapa tahun terakhir, ketidakpercayaan telah menekan Interaksi tersebut. Kini Beijing berusaha menegaskan kembali pengaruhnya atas Kawan yang secara strategis Krusial, Tetapi sangat sulit diprediksi.

China menginginkan stabilitas di perbatasannya dan pengaruh di Pyongyang, tanpa harus terseret ke dalam krisis yang dipicu ambisi nuklir Korea Utara.

Karena itu, kunjungan Xi pekan ini kemungkinan lebih terkait dengan posisi tawar, bukan sekadar persahabatan.

Seoul meyakini Xi mungkin mencoba menempatkan China sebagai Perantara antara Korea Utara dan Amerika Perkumpulan, meski Beijing Dapat saja Mempunyai motif lain.

Sumber diplomatik Barat mengatakan kepada BBC bahwa China semakin khawatir dengan berkembangnya kemitraan antara Pyongyang dan Moskow.

Setelah Berjumpa Presiden Rusia Vladimir Putin pekan Lewat, Xi tampaknya Mau memastikan dia juga dapat menjaga kendali atas Kim Jong Un, terutama ketika Beijing semakin menegaskan kehadirannya di Podium Mendunia.

Mencairnya Interaksi yang tegang

Interaksi yang merenggang antara Beijing dan Pyongyang terlihat Jernih, meski secara halus.

Kedua negara nyaris Kagak menandai peringatan 75 tahun Interaksi diplomatik pada Oktober 2024, dengan pesan publik yang minim.

Bahkan, duta besar China Kagak menghadiri perayaan hari jadi Korea Utara sebulan sebelumnya.

Sepanjang tahun itu, Kagak Eksis pertukaran pejabat tingkat tinggi—kontras dengan Interaksi Pyongyang yang semakin hangat dengan Moskow.

Kedekatan Korea Utara dengan Rusia Membangun Beijing resah.

Setelah invasi Rusia ke Ukraina, Pyongyang memperluas kerja sama militer dengan Presiden Vladimir Putin, yang berpuncak pada penandatanganan pakta pertahanan Berbarengan Demi kunjungan Putin ke Pyongyang pada 2024.

Menurut Penyelidikan BBC, Sekeliling 2.300 tentara Korea Utara tewas bertempur Demi Rusia melawan Ukraina.

Pyongyang juga dituduh memasok amunisi bagi upaya perang Rusia dengan imbalan minyak dan Sokongan, sebuah perkembangan yang memicu kekhawatiran Washington dan sekutunya, serta Tenang-Tenang mengguncang Beijing.

“China Mau memastikan kepentingannya terhadap Korea Utara tetap terlindungi di tengah konvergensi Segera antara Moskow dan Pyongyang,” kata Ankit Panda, Ahli kebijakan nuklir di Carnegie Endowment for International Peace.

Pedestrians walk past a mural (L) that reads "For the safety and endless future of our nation", as a building adorned with the slogan "Long live the great people-first politics" is seen in the background in Pyongyang on May 8, 2026.

China hanya Mempunyai satu perjanjian pertahanan formal, yakni dengan Korea Utara.

Karena itu, Beijing Kagak mungkin menyambut skenario di mana Rusia menjadi pengaruh dominan di Pyongyang.

Sosok Kim Jong Un yang lebih percaya diri dan kurang bergantung pada China berarti berkurangnya posisi tawar Beijing.

Sebagai respons, China berusaha mengatur ulang Interaksi.

Akhir tahun Lewat, Xi Jinping mengundang Kim menghadiri parade militer di Beijing, menempatkannya di sisi Xi Berbarengan Presiden Rusia Vladimir Putin.

Itu merupakan pertemuan puncak formal pertama mereka dalam enam tahun.

Xi memuji keduanya sebagai “tetangga Bagus, sahabat Bagus, dan Sahabat seperjuangan yang terikat oleh nasib Berbarengan”, serta menyerukan koordinasi strategis yang lebih erat.

Menariknya, Kagak Eksis penyebutan mengenai senjata nuklir Korea Utara dalam pernyataan publik.

Menurut Lee Seong-hyon, peneliti tamu di Harvard University Asia Center, Beijing Mempunyai “perasaan Kombinasi aduk” terhadap kemitraan Pyongyang–Moskow yang semakin erat.

Di satu sisi, kemitraan itu “mengalihkan perhatian Washington dan mempersulit strategi AS di berbagai kawasan, yang secara Kagak langsung menguntungkan China”.

Tetapi, di sisi lain, kerja sama militer yang berkembang antara Rusia dan Korea Utara Dapat memicu respons militer trilateral yang lebih kuat dari AS, Jepang, dan Korea Selatan—sesuatu yang akan Membangun Beijing khawatir.

Itulah sebabnya China Kagak mendukung program nuklir Pyongyang, karena hal itu Malah akan meningkatkan keterlibatan AS di kawasan dan memperkuat aliansinya.

Tapi Beijing juga Kagak menghadapi isu tersebut secara langsung.

Pada 2022, China dan Rusia memveto resolusi PBB yang dipimpin AS Demi menjatuhkan Denda baru atas uji coba rudal Korea Utara.

Kalau China mengambil sikap keras terhadap program nuklir Pyongyang, “hal itu hanya akan mendorong Korea Utara semakin berpihak kepada Putin,” kata Victor Cha, presiden departemen kebijakan luar negeri di Center for Strategic and International Studies.

Kawan yang pragmatis

Tetapi Kim juga Kagak Dapat begitu saja menjauh dari sumber Sokongan terbesarnya.

Ekspor China ke Korea Utara melonjak hingga Sekeliling US$2,3 miliar tahun Lewat— Nomor tertinggi dalam enam tahun terakhir.

Layanan kereta penumpang antara Beijing dan Pyongyang pun kembali beroperasi awal tahun ini setelah enam tahun terhenti.

Para analis menilai langkah ini sebagai upaya terukur Beijing Demi menarik Pyongyang kembali ke orbitnya.

Bagi Kim, ini adalah pilihan pragmatis.

Kalau perang di Ukraina berakhir, kebutuhan Rusia akan dukungan Korea Utara Dapat berkurang. Dan berbeda dengan Putin yang semakin terisolasi, Xi Malah menyambut para pemimpin dunia di Beijing.

Karena itu, Kim perlu memastikan dirinya Kagak hanya bergantung pada Kawan yang melemah.

North Korean leader Kim Jong Un (C) and his daughter Ju Ae (L) responding to citizens

Tetapi sejak awal, Interaksi ini penuh masalah.

Kim Jong Un mewarisi kekuasaan dengan prioritas yang berbeda dari ayahnya.

Kalau Kim Jong Il berulang kali berkunjung ke China dan bergantung pada dukungan Beijing, sang putra Malah bergerak Segera mempercepat program nuklir Korea Utara.

Dalam enam tahun pertama pemerintahannya, Kim mengawasi Sekeliling 90 uji coba rudal balistik dan empat ledakan nuklir—lebih banyak dibandingkan Orang Sepuh dan kakeknya Kalau digabungkan.

Langkah ini Membangun Beijing khawatir.

Eksekusi terhadap pamannya, Jang Song Thaek—yang dipandang China sebagai sosok stabilisator—semakin memperlebar jurang.

Xi Jinping merespons dengan sinyal diplomatik yang jarang terjadi, yakni berkunjung ke Korea Selatan pada 2014 sebelum pernah Berjumpa Kim, sebuah langkah yang dianggap sebagai tamparan diplomatik.

Pyongyang kemudian menyebut China sebagai “pengkhianat dan musuh kami.”

Baru pada 2018, ketika Denda atas program nuklir mulai menggigit, Kim melakukan perjalanan luar negeri pertamanya.

Dia naik kereta lapis baja menuju Beijing. Pertemuan itu menandai awal dari penyesuaian hati-hati.

Kim kemudian Berjumpa dengan para pemimpin Amerika Perkumpulan dan Korea Selatan, Tetapi selalu setelah berkonsultasi dengan China. Pesannya Jernih: Pyongyang Kagak akan bernegosiasi tanpa dukungan Beijing.

Kini, Korea Utara berfungsi sekaligus sebagai penyangga dan beban bagi China. Keberadaannya menjaga jarak Laskar AS, tetapi uji coba senjatanya Malah mengguncang stabilitas kawasan.

Sementara itu, Kim menginginkan perlindungan China—tanpa kendali China.

Kedua pihak sama-sama Kagak sepenuhnya percaya satu sama lain. Tetapi Demi Demi ini, keduanya merasa saling membutuhkan, dan itu cukup Demi menjaga komunikasi tetap terbuka.

Laporan tambahan oleh Kelly Ng.