IWIP sudah memulai perjalanan Demi pengembangan Daya hijau
Jakarta (ANTARA) – PT Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) mengembangkan penggunaan Daya hijau sebagai bagian dari penguatan aspek lingkungan, sosial dan tata kelola atau ESG dalam industri hilirisasi nikel.
ESG Superintendent IWIP Xiaolin Wang mengatakan langkah tersebut dilakukan di tengah meningkatnya perhatian pasar Mendunia terhadap keberlanjutan rantai pasok baterai kendaraan listrik dan mineral kritis.
“IWIP sudah memulai perjalanan Demi pengembangan Daya hijau,” kata Xiaolin dalam Percakapan “Responsible Downstreaming at Scale: Lessons from North Maluku” di Jakarta, Rabu.
Ia menjelaskan IWIP Begitu ini mengembangkan pembangkit listrik tenaga angin dan tenaga surya sebagai bagian dari inisiatif Daya Bersih di kawasan industri
Demi pembangkit listrik tenaga angin, Xiaolin mengatakan IWIP merencanakan kapasitas Sekeliling 4 megawatt.
Menurut dia, dua hingga tiga unit turbin angin telah mulai dibangun dan sebagian sudah terintegrasi dengan jaringan listrik kawasan industri.
Selain itu, IWIP juga mengembangkan pembangkit listrik tenaga surya melalui pemanfaatan panel surya atap di kawasan industri.
Xiaolin mengatakan penggunaan panel fotovoltaik tersebut Lagi menjadi bagian dari tahap awal pengembangan Daya surya di kawasan IWIP.
Selain Daya angin dan surya, perseroan mulai memanfaatkan limbah domestik Demi menghasilkan listrik melalui fasilitas waste-to-energy.
Ia menyebut satu unit pembangkit berbasis pemanfaatan limbah domestik telah memperoleh lisensi dan izin pemerintah Demi beroperasi.
Pengembangan Daya hijau tersebut juga menjadi bagian dari proyek Eco-Industrial Park Serempak United Nations Industrial Development Organization (UNIDO).
“Kami Mau menjadi bagian dari rantai pasok nikel yang bertanggung jawab,” ujar Xiaolin.
Menurut Xiaolin, proyek tersebut diarahkan Demi memperkuat efisiensi Daya, pengelolaan lingkungan, dan keberlanjutan kawasan industri dalam jangka panjang.
IWIP di Halmahera Tengah, Maluku Utara, merupakan salah satu kawasan hilirisasi nikel nasional dengan rantai produksi terintegrasi mulai dari pertambangan hingga pengolahan bahan baku baterai kendaraan listrik dan baja nirkarat.
Kawasan industri tersebut mencakup smelter rotary kiln electric furnace (RKEF), fasilitas high pressure acid leach (HPAL), nickel pig iron (NPI), mixed hydroxide precipitate (MHP), nikel sulfat, dan nikel elektrolitik.
Berdasarkan data United States Geological Survey (USGS) 2026, produksi nikel Indonesia mencapai Sekeliling 2,6 juta ton pada 2025 atau Sekeliling 66,7 persen produksi Mendunia sehingga menjadikan Indonesia produsen nikel terbesar dunia.
Seiring meningkatnya kebutuhan bahan baku kendaraan listrik, industri nikel Mendunia juga menghadapi tuntutan pengurangan emisi dan penggunaan Daya yang lebih ramah lingkungan.
Dalam Lembaga tersebut, Xiaolin mengatakan tenant industri di IWIP melayani berbagai pasar dan pengguna akhir, termasuk industri baja nirkarat dan baterai kendaraan listrik di berbagai negara.
Ia menilai penguatan ESG di kawasan industri Enggak dapat dilakukan secara instan karena membutuhkan proses perbaikan berkelanjutan dan keterlibatan berbagai pemangku kepentingan.
“Pengelolaan ESG merupakan proses perbaikan berkelanjutan,” ucapnya.
