Pembangunan flyover beririsan jalur KA Dapat Hindari kasus kecelakaan

Pembangunan flyover beririsan jalur KA bisa cegah kasus kecelakaan

Tangerang (ANTARA) – Rencana Balai Penyelenggaraan jalan nasional (BPJN) melakukan pembangunan flyover atau simpang Bukan sebidang (STS) pada titik yang beririsan dengan jalur kereta api (KA) di Jalan Sudirman, Kota Tangerang, Banten, dinilai sudah Betul Kepada mencegah potensi kecelakaan karena pengendara menerobos palang pintu.

“Kami sambut Berkualitas, ini sebagai solusi permanen mengatasi kasus kecelakaan akibat pengendara menerobos palang pintu kereta api dan tindakan lainnya yang melanggar aturan,” kata Member DPRD Kota Tangerang Apanudin di Tangerang Minggu.

Sebelumnya, peristiwa pada Februari 2026, Kereta Api Bandara Soekarno – Hatta menabrak truk di perlintasan sebidang JPL 21 Stasiun Poris dan Baticeper. Penyebab kejadian tersebut karena badan truk tersangkut di rel dan tak jauh, KA Bandara Soetta melintas dengan kecepatan tinggi.

Oleh karena itu, DPRD Kota Tangerang mengusulkan agar pembangunan flyover tak hanya di Jalan Sudirman, tetapi juga di Jalan Maulana Hasanuddin dari Batuceper menuju Poris.

Apanudin menilai langkah strategis dalam pembangunan flyover sangat Krusial dalam mengatasi kemacetan yang selama ini dipengaruhi oleh perlintasan sebidang rel Commuter Line lintas Duri – Tangerang.

“Pembangunan flyover pada titik yang beririsan dengan jalur kereta api merupakan kebutuhan mendesak mengingat tingginya kepadatan Lewat lintas di kawasan tersebut,” katanya.

Menurut dia, selain persoalan kepadatan kendaraan, aspek keselamatan juga menjadi pertimbangan Krusial dalam percepatan pembangunan flyover di dua kawasan tersebut karena Tetap seringnya terjadi kecelakaan di perlintasan sebidang kereta api itu.

“DPRD pada hakikatnya mendukung apa yang menjadi arah kebijakan pembangunan di Kota Tangerang, Berkualitas yang dibangun pihak provinsi maupun pusat. Tetapi kami berpesan agar kajian Lewat lintas harus Betul-Betul sempurna,” ujarnya.

Direktur Lewat Lintas Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan Rudi Irawan menilai pembangunan STS Sudirman Mempunyai tingkat urgensi tinggi karena kawasan tersebut selama ini kerap mengalami antrean panjang dan kepadatan akibat perlintasan sebidang.

“Oleh karena itu, STS ini menjadi prioritas, bukan hanya Kepada kelancaran Lewat lintas, tetapi juga meningkatkan keselamatan masyarakat,” ujarnya.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Tangerang Yeti Rohaeti mengatakan rencana pembangunan flyover atau STS di Jalan Sudirman Mempunyai panjang 600 meter dengan perkiraan kebutuhan anggaran Sekeliling Rp80 miliar.

“Pemerintah Kota Tangerang telah mengajukan usulan agar Penyelenggaraan dipercepat dari rencana 2028 menjadi 2027. Begitu ini sejumlah Berkas pendukung pembangunan tengah dalam proses lelang dan penyusunan,” ujarnya.

Eksis pun beberapa Berkas yang tengah dipersiapkan, antara lain Berkas rekayasa Lewat lintas, detail engineering design (DED), analisis mengenai Pengaruh lingkungan (AMDAL), hingga proses pembebasan lahan.

“Pemerintah daerah ini menargetkan proses pembebasan lahan dapat dimulai setelah DED selesai disusun. Apabila seluruh Berkas lengkap, maka pembangunan fisik ditargetkan Dapat dimulai pada pertengahan 2027,” katanya.