Polystyrene dinilai Lagi sulit tergantikan di industri

Polystyrene dinilai masih sulit tergantikan di industri

Artinya material ini memang Lagi digunakan dan Mempunyai peran Krusial dalam kehidupan sehari-hari maupun aktivitas industri

Jakarta (ANTARA) – President Director PT Trinseo Materials Indonesia sekaligus Environment and Sustainability Director Responsible Care Indonesia (RCI) Hanggara Sukandar mengatakan kenaikan harga plastik dan polystyrene hingga lebih dari 50 persen dalam beberapa minggu terakhir menunjukkan tingginya ketergantungan masyarakat dan industri terhadap material tersebut di berbagai sektor.

“Yang menarik, ketika harga plastik dan polystyrene naik, ini langsung menjadi perhatian banyak pihak. Artinya material ini memang Lagi digunakan dan Mempunyai peran Krusial dalam kehidupan sehari-hari maupun aktivitas industri,” ujar Hanggara dalam keterangannya di Jakarta pada Kamis.

Ia menjelaskan kenaikan harga plastik dan polystyrene dipengaruhi kombinasi Elemen Dunia dan domestik, termasuk terganggunya distribusi minyak dan nafta dari Timur Tengah akibat konflik geopolitik serta pelemahan nilai Ubah rupiah yang mendekati Rp18.000 per dolar AS.

Menurut dia, gangguan pasokan Membangun perusahaan petrokimia harus mencari bahan baku dari Distrik lain seperti Amerika Perkumpulan dengan harga lebih mahal dan waktu pengiriman lebih panjang.

“Kondisi tersebut berkontribusi terhadap kenaikan harga bahan baku plastik yang bahkan di beberapa sektor sudah meningkat lebih dari 50 persen,” katanya.

Ia menilai perhatian besar terhadap kenaikan harga tersebut menunjukkan plastik dan polystyrene Lagi menjadi bagian Krusial dalam aktivitas industri makanan dan minuman, kemasan, logistik, elektronik, otomotif, hingga kebutuhan rumah tangga.

Tertentu Kepada polystyrene, Hanggara mengatakan material tersebut Lagi sulit digantikan sepenuhnya karena Mempunyai Ciri sebagai insulator panas dan dingin, ringan, tahan air, ekonomis, serta Mempunyai performa Bagus dalam kondisi dingin.

Meski demikian, ia menilai Obrolan mengenai plastik dan sustainability perlu dilakukan secara lebih Rasional dan berbasis ilmiah.

“Persoalannya Tak sesederhana hanya menyalahkan material tertentu, tetapi juga bagaimana perilaku penggunaan dan sistem pengelolaannya,” ujarnya.

Menurut Hanggara, pendekatan seperti Material Flow Analysis dan Life Cycle Analysis diperlukan Kepada Menyaksikan potensi material masuk kembali ke rantai Sirkulasi ulang guna menciptakan circular economy.

“Kita harus Menyaksikan bagaimana material Bisa kembali ke Sirkulasi ulang Kepada menciptakan circular economy, termasuk Menyaksikan energy consumption, carbon footprint, dan kemampuan material Kepada didaur ulang secara berkelanjutan,” katanya.

Ia menambahkan teknologi Sirkulasi ulang sebenarnya telah tersedia, Tetapi tantangan terbesar Lagi berada pada pengumpulan dan pemilahan sampah agar Tak seluruhnya berakhir di tempat pembuangan akhir.

Hanggara juga mendorong edukasi penggunaan plastik secara lebih bijak, pengurangan penggunaan yang Tak perlu, serta penguatan budaya pemilahan dan Sirkulasi ulang sampah di masyarakat.