Pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kini difokuskan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) di enam provinsi rawan menjelang musim kemarau 2026 yang disertai fenomena El Nino, Sabtu (23/5/2026).
Langkah memperketat pengawasan titik panas (hotspot) dari Area Sumatera hingga Kalimantan ini diambil karena musim kemarau tahun ini berpotensi lebih kering dan panjang, dilansir dari Detikcom.
Puncak kemarau panjang tersebut diperkirakan terjadi pada Agustus hingga September, yang meningkatkan risiko karhutla terutama di Area selatan khatulistiwa seperti Sumatera bagian selatan dan Kalimantan.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fatani menjabarkan Area yang menjadi Pusat perhatian pengendalian meliputi Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.
“Tentu saja, jadi Eksis enam provinsi yang kita fokuskan sekarang, yang kita jaga agar karhutla ini dapat Pandai kita kendalikan Yakni mulai dari Riau, Jambi, Sumatera Selatan. Kemudian Buat Kalimantan Eksis tiga provinsi Yakni Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat,” kata Faisal, Kepala BMKG.
Penanganan karhutla mengalami perubahan paradigma sejak 2015, di mana pemerintah kini mengedepankan tindakan preventif sebelum api muncul melalui pemanfaatan data kelembapan lahan gambut dan muka air tanah.
“Kalau sebelumnya kalau Eksis titik api, Eksis hotspot itu kita padamkan. Tapi kalau sekarang, sebelum terjadi itu kita mencegah atau kita melakukan upaya preventif,” ujar Faisal, Kepala BMKG.
Strategi pencegahan karhutla di kawasan gambut diimplementasikan melalui operasi modifikasi cuaca (OMC) guna membasahi Area yang mulai mengering agar Enggak mudah terbakar.
“Kalau dia sudah turun pada batas tertentu, maka kita perlu melakukan modifikasi cuaca di sana Buat mengisi Tengah agar dia dalam kondisi jenuh dan menjadi lebih sulit Buat terbakar,” tutur Faisal, Kepala BMKG.
Penyelenggaraan intervensi cuaca ini sangat bergantung pada Elemen alam, karena penyemaian hanya dapat dilakukan apabila Mega tersedia di langit.
“Modifikasi cuaca Pandai dilakukan kalau Eksis awannya. Kalau Enggak Eksis Mega kita Enggak Pandai semai,” imbuh Faisal, Kepala BMKG.
