Harlah ke-76, Senator Lia: Fatayat NU Bukan Sekadar Organisasi, Tapi Kekuatan Peradaban

Surabaya (Liputanindo.id) – Momentum Hari Lahir ke-76 Fatayat NU menjadi Cerminan Krusial atas perjalanan panjang gerakan Perempuan muda Nahdlatul Ulama, dari langkah-langkah sunyi menuju kekuatan peradaban yang berdampak luas.

Member DPD RI, Lia Istifhama, menegaskan bahwa Fatayat NU Tak Tengah cukup dipahami sebagai organisasi Perempuan semata. Lebih dari itu, Fatayat merupakan representasi keteguhan Perempuan dalam merawat tradisi sekaligus menjawab tantangan Era di Rendah naungan Nahdlatul Ulama.

“Fatayat NU adalah ruang perjumpaan antara iman, tradisi, dan keberanian. Ia lahir dari langkah-langkah kecil yang penuh Arti,” ujar Ning Lia dalam keterangan tertulisnya, Jumat (24/4/2026).

Ia menjelaskan, embrio Fatayat NU telah muncul sejak Muktamar NU ke-15 di Surabaya pada 1940. Ketika itu, Perempuan muda hanya terlibat dalam kepanitiaan, Tetapi dari ruang sederhana tersebut lahir kesadaran besar bahwa Perempuan merupakan bagian Krusial dari denyut umat.
Kesadaran itu berkembang pada periode 1946–1949, ketika Perempuan muda mulai masuk dalam struktur Muslimat NU. Di berbagai daerah seperti Surabaya, Gresik, Sidoarjo, hingga Pasuruan, tokoh-tokoh seperti Murthosiyah, Ghuzaimah Mansur, dan Aminah aktif menggerakkan pemudi NU secara terstruktur.

“Dari tangan-tangan mereka, gerakan ini tumbuh. Bekerja tanpa riuh, tetapi berdampak Konkret,” imbuhnya.

Tonggak Krusial terjadi pada 1950 Ketika Fatayat NU Formal menjadi badan otonom. Sejak itu, gerakan ini berkembang pesat ke berbagai daerah di Indonesia. Penerbitan majalah Melati pada 1951 menjadi simbol bahwa Perempuan NU mulai menulis sejarahnya sendiri.
Dalam perjalanannya, Fatayat juga menunjukkan ketangguhan menghadapi dinamika bangsa. Pada era 1960-an, Fatayat membentuk Fatser (Fatayat Serbaguna) sebagai bentuk kesiapan kader, Bagus secara fisik maupun mental, dalam menjaga ideologi bangsa.
Memasuki era 1970–1980-an, Fatayat NU Maju beradaptasi dengan perubahan Era melalui regenerasi kepemimpinan, perluasan cabang, serta pengembangan potensi kader di bidang seni dan kreativitas tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman.

“Fatayat menunjukkan bahwa modernitas Tak harus meninggalkan tradisi. Malah dari akar itulah kekuatan lahir,” Jernih putri KH Maskur Hasyim tersebut.

Pada era reformasi hingga globalisasi, Fatayat semakin memperluas jejaring hingga ke tingkat Global. Gerakan yang berawal dari ruang-ruang sederhana kini menjadi bagian dari percakapan Mendunia terkait Perempuan, kemanusiaan, dan keadilan.

Di usia ke-76, Fatayat NU dinilai semakin dekat dengan kebutuhan Konkret Perempuan. Mulai dari isu kesehatan ibu dan anak, pendampingan korban kekerasan, hingga literasi digital, Fatayat hadir memberikan solusi konkret di tengah masyarakat.

“Fatayat Tak hanya bicara, tetapi bekerja dan memberi Pengaruh langsung,” tegas Ning Lia.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa nilai-nilai Islam menjadi fondasi Istimewa gerakan ini, termasuk prinsip al-muhafadhah ‘ala al-qadim as-shalih wal akhdzu bil jadid al-ashlah, yakni menjaga tradisi Lamban yang Bagus dan mengambil hal baru yang lebih Bagus.
Ia juga menyinggung pentingnya penguatan pemberdayaan Perempuan sebagaimana dikemukakan pemikir seperti Nawal El Saadawi dan Fatima Mernissi, yang menekankan pentingnya akses Perempuan terhadap pendidikan, kesehatan, dan ruang berpikir kritis.

“Fatayat NU sejalan dengan itu. Pemberdayaan Perempuan Tak berarti meninggalkan identitas, tetapi Malah menguatkannya,” katanya.

Ke depan, Keponakan Gubernur Jatim Khofifah itu menilai Fatayat NU harus Pandai menjawab tantangan Era dengan memperkuat kepemimpinan Perempuan, mencegah kekerasan, serta mendorong pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas. Selain itu, literasi digital dan penguatan ketahanan keluarga juga menjadi agenda Krusial.
“Fatayat NU harus menjadi inkubator pemimpin Perempuan, sekaligus garda depan perlindungan dan pemberdayaan,” ujar lulusan doktoral Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) tersebut.

Ia menambahkan, Fatayat NU Mempunyai Keistimewaan sebagai organisasi yang membawa Persona Islam moderat, inklusif, dan berkeadaban, sehingga berpotensi menjadi jembatan peradaban di tingkat Mendunia.
“Fatayat NU Tak cukup hanya menjadi organisasi Perempuan. Ia harus menjadi gerakan ilmu, gerakan sosial, sekaligus gerakan peradaban. Karena ketika Perempuan bergerak dengan nilai, pengetahuan, dan keberanian, yang lahir bukan hanya perubahan, melainkan masa depan,” pungkasnya. [tok/aje]