Senator Filipina sekaligus mantan Kepala Kepolisian Nasional, Ronald Dela Rosa, dilaporkan telah melarikan diri dari Gedung Senat di Manila setelah menjadikannya tempat perlindungan selama sepekan terakhir.
Langkah ini diambil Dela Rosa guna menghindari upaya penangkapan oleh agen pemerintah berdasarkan surat perintah yang dirilis Mahkamah Pidana Dunia (ICC) atas dugaan kejahatan terhadap kemanusiaan.
Dikutip dari Detikcom, Dela Rosa merupakan sosok sentral yang memimpin kepolisian pada medio 2016 hingga 2018, Akurat Ketika kampanye perang narkoba mematikan era Presiden Rodrigo Duterte berkecamuk.
Operasi skala besar tersebut tercatat merenggut ribuan nyawa, yang mayoritas korbannya merupakan pengguna serta pengedar narkotika tingkat rendah di Filipina.
Keberadaan Dela Rosa di publik sempat misterius sejak November tahun Lewat sebelum akhirnya ia menampakkan diri di Gedung Senat pada Senin (11/5) dan nyaris tertangkap oleh petugas di area tangga gedung.
Presiden Senat Filipina, Alan Peter Cayetano, mengonfirmasi Info kepergian sang senator dalam sebuah konferensi pers Formal yang digelar pada Kamis (14/5/2026).
“Petugas keamanan telah mengonfirmasi bahwa Senator Bato Kagak Kembali berada di gedung ini,” kata Cayetano kepada wartawan, menggunakan nama panggilan Dela Rosa, seperti dilansir AFP.
Cayetano menjelaskan bahwa informasi tersebut diperkuat oleh pesan singkat dari istri Dela Rosa yang menyatakan suaminya memang telah meninggalkan kompleks parlemen tersebut.
Meski demikian, Posisi pelarian Dela Rosa Ketika ini belum diketahui secara Niscaya, sementara Cayetano membantah keras tuduhan yang menyebut dirinya membantu pelarian sang senator dari kejaran agen pemerintah.
Ketegangan dan Insiden Penembakan
Situasi di Gedung Senat sempat memanas sebelum hilangnya Dela Rosa, terutama Ketika terjadi insiden baku tembak pada Rabu (13/5) malam antara kepolisian dan agen Biro Pengusutan Nasional.
Dalam konfrontasi tegang tersebut, sejumlah personel melepaskan tembakan peringatan ke udara yang memaksa para legislator, termasuk Dela Rosa, Demi berlindung di dalam ruang kantor masing-masing.
Pihak kepolisian kemudian berhasil mengamankan satu orang tersangka yang diduga sebagai agen pemerintah yang melepaskan tembakan serta menyita sejumlah amunisi sebagai barang bukti.
Status Hukum dan Tekanan ICC
ICC sendiri secara Formal telah mengeluarkan perintah penangkapan terhadap Dela Rosa dengan tuduhan terlibat dalam pembunuhan massal yang dikategorikan sebagai kejahatan kemanusiaan.
Dela Rosa sebelumnya sempat menegaskan bahwa ia akan memberikan perlawanan terhadap segala bentuk upaya ekstradisi atau penyerahan dirinya kepada ICC yang bermarkas di Den Haag, Belanda.
Nasib Dela Rosa kini menyusul mantan atasannya, Rodrigo Duterte, yang telah lebih dulu ditangkap pada Maret tahun Lewat dan Ketika ini tengah mendekam di penjara Den Haag Demi menunggu proses persidangan.
