Gunung Dukono erupsi: Pemandu pendakian ‘Mau sujud di kaki orang Sepuh korban’

Gunung Dukono erupsi di Halmahera Utara, Maluku Utara, Sabtu (09/05).

Empat hari setelah erupsi Gunung Dukono yang menewaskan dua pendaki Singapura dan satu pendaki Indonesia, Reza Selang mengaku Tetap sangat terpukul.

Reza adalah pemandu yang membawa tiga orang itu dan 17 lainnya ke puncak Gunung Dukono di Halmahera Utara, Maluku Utara, pada Jumat (08/05) Lampau.

Dia lolos dari maut, Tetapi menyaksikan sebuah batu besar terlempar dari Kawah dan menimpa dua pendaki Cocok di depan matanya.

“Tamat sekarang saya Tetap sangat terpukul,” ujarnya Demi dihubungi melalui sambungan telepon pada Senin pagi.

Gunung Dukono

Menurut pria berusia 35 tahun itu, rombongan tiba di Desa Mamuya pada Kamis (07/05), Sekeliling pukul 12.00 WIT. Mereka Lampau melanjutkan perjalanan menuju titik awal pendakian dan tiba di shelter lima jam kemudian.

Reza Berbicara, malam itu Tak terlihat tanda-tanda aktivitas vulkanik Gunung Dukono.

Keesokan paginya rombongan mulai mendaki puncak gunung pada pukul 05.30 WIT dan tiba di dekat puncak Sekeliling pukul 07.20 WIT.

“Demi saya pantau dengan drone Tak kelihatan aktivitas apa-apa di Kawah. Asapnya pun enggak Eksis. Sangat tenang,” ujarnya.

Dia lantas mengizinkan rombongan naik lebih dekat ke puncak dengan syarat mereka tak berlama-Lamban dan lekas turun.

Yang naik ke puncak gunung, menurut Reza, mencakup sembilan Kaum negara asing, dua Member timnya, dan tiga tamu lokal.

Tim SAR gabungan membawa kantong berisi jenazah pendaki korban erupsi Gunung Dukono di Kecamatan Galela, Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara, Sabtu (09/05).

Pada Demi Gunung Dukono erupsi, Reza mengatakan dirinya Tetap berada di Rendah Sembari menerbangkan drone.

“Di 07.40 saya sempat nge-drone dari jauh. Pas di 07.41 langsung gunungnya meletus,” katanya.

Demi itu, menurutnya, terjadi dua letusan dalam selang waktu kurang dari satu menit.

“Letusan pertama Tetap keluar asap. Sekian detik kemudian letusan susulan keluar dan itu keluar material [vulkanik] semuanya,” ujarnya.

Para pendaki langsung berhamburan turun, kata Reza.

“Begitu mereka berhamburan lari ke Rendah, saya dekatkan drone Kepada Menonton apakah Eksis yang tertinggal atau enggak. Rupanya Eksis satu orang yang terkapar di atas, dekat puncak,” katanya.

Korban tersebut kemudian diketahui bernama Shahin Muhrez bin Abdul Hamid, Kaum negara Singapura.

Reza Selang, pemandu pendakian di Gunung Dukono

Reza mengatakan seorang pendaki lain, Timothy Heng, sempat turun, Tetapi kembali naik ke puncak Kepada membantu Shahin.

“Dia sudah lari turun. Tapi dia balik Tengah karena Paham Eksis temannya,” katanya. Sesaat kemudian, Reza berlari ke atas Serempak Timothy.

Keduanya kemudian mencoba mengevakuasi Shahin dengan Metode menyeret tubuhnya menuruni jalur pendakian di tengah hujan batu vulkanik.

“Saya pegang kaki, Timo pegang tangannya. Jadi kita seret dia turun,” ujar Reza.

Tetapi Demi mencoba mengubah jalur, Kawah memuntahkan sebuah batu besar, yang kemudian memantul ke tanah dan menghujam ke arah mereka.

“Batu itu Sekeliling dua meter lebarnya. Saya sudah teriak ‘stone’, tapi Timo balik dan hanya sepersekian detik dia langsung memeluk Shahin,” katanya.

Reza menyaksikan batu besar itu Lampau menghantam tubuh keduanya.

“Kena semuanya, kepala, badan, seluruhnya, karena batunya besar,” katanya.

Reza mengaku sempat membeku setelah menyaksikan langsung dua orang tertimpa batu.

“Saya sempat nge-freeze. Saya Menonton langsung bagaimana dua orang yang saya kenal selama perjalanan terhimpit batu,” katanya.

Sayup-sayup Reza mendengar seseorang berteriak memanggil-manggil namanya. Barulah dia tersadar dan lari menuju titik Kondusif.

“Saya langsung mengabari grup mapala saya, grup keluarga saya,” katanya.

Di tengah kekacauan itu, Reza mengatakan satu peserta lain juga dinyatakan hilang. Belakangan, jasad Angel Krishela Pradita, ditemukan oleh tim pada Sabtu (09/05).

Angel disebut merupakan peserta pendakian asal Ternate.

Jasad Timothy dan Shahin berhasil dievakuasi pada Minggu (10/05).

‘Saya Mau sujud di kaki orang Sepuh korban’

Pada hari yang sama, tim SAR gabungan yang terdiri dari Basarnas, TNI, dan Polri langsung bergerak ke Posisi Kepada melakukan operasi penyelamatan. Tetapi proses evakuasi terkendala erupsi yang Lalu berlangsung.

“Gunung Tetap Lalu meletus, intervalnya sangat pendek, Tetap mengeluarkan material,” kata Reza.

Meski mengalami luka bakar di kaki akibat terkena material vulkanik, Reza berkeras tetap bertahan di Posisi Kepada membantu proses evakuasi.

korban erupsi Gunung Dukono saat tiba di Desa Mamuya, Kecamatan Galela, Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara, Sabtu (09/05).

Reza juga mengungkap penyesalannya atas tragedi tersebut.

“Ini kejadian pertama yang saya alami dan saya merasa sangat bersalah kepada korban dan keluarga korban,” katanya.

“Saya rasanya pengin ke sana, sujud di kaki orang tuanya korban. Saya Mau minta Ampun,” ujarnya Sembari terdiam beberapa Demi.

Menurut Reza, banyak hal yang Lalu ia pikirkan setelah kejadian itu.

“Tentu saja banyak penyesalan. Seandainya kemarin kita enggak naik, seandainya kemarin saya enggak terima [pekerjaan ini], seandainya Dukono bukan tujuan terakhir,” katanya.

Menjalani pemeriksaan polisi

Pada Jumat (08/05) malam, ketika operasi pencarian dihentikan sementara, Reza mengaku langsung dibawa ke rumah sakit Lampau menjalani pemeriksaan polisi.

“Dari rumah sakit tanpa Waktu Senggang, kita langsung dioper Tengah ke Polres, dimintai keterangan, BAP dan segala Ragam,” katanya.

Hingga kini, proses penyelidikan polisi Tetap berlangsung.

“Konsekuensi hukum yang nanti terjadi, apapun itu harus saya terima, siap Tak siap,” katanya.

Reza mengaku status dirinya Tetap sebagai saksi, Tetapi dia dan timnya belum diperbolehkan meninggalkan Tobelo, Halmahera Utara.

“Hari pertama saja saya diminta menginap di kantor polisi. Hari kedua sudah dilepas tapi dengan catatan jangan ke mana-mana. Kepada jadwal pemeriksaan saya Tetap mengambang. Katanya stand by saja,” papar Reza.

Penuturan Reza dikuatkan Kasat Reskrim Polres Halmahera Utara, Iptu Rinaldi Anwar. Menurutnya, dua pria berinisial MRS dan JA menjalani pemeriksaan intensif.

Dua orang itu diketahui terafiliasi dengan akun Anak Esa yang mempromosikan paket pendakian melalui program bertajuk “Ayo Baronda” di media sosial.

Iptu Rinaldi Anwar mengonfirmasi kedua pria tersebut Tetap berstatus sebagai saksi, Tetapi penyidik Lalu mendalami peran setiap individu dalam mengorganisir pendakian tersebut.

Anggota tim SAR gabungan melakukan pemantauan dengan pesawat nirawak saat operasi pencarian pendaki korban erupsi Gunung Dukono

Kapolres Halmahera Utara, AKBP Erlichson Pasaribu, menegaskan Tak akan menoleransi pihak-pihak yang lalai Tamat menyebabkan hilangnya nyawa wisatawan.

“Kami dari Polres akan mengusut tuntas terkait guide-nya dari segi hukum, dari penanggung jawab, Tamat dengan porter, itu Seluruh akan diproses secara hukum. Kita akan mulai penyelidikan,” ujar Erlichson.

Tak Paham Eksis peringatan

Reza mengaku pertama kali dihubungi oleh Timothy pada pertengahan tahun Lampau Kepada mengatur perjalanan ke sejumlah gunung di Maluku Utara.

“Dia menyampaikan tertarik Kepada datang ke sini, ke Dukono. Lalu dia tanya apakah saya Bisa Kepada mengatur perjalanan mereka,” kata Reza.

Menurut Reza, tujuan Esensial rombongan itu memang Gunung Dukono. Reza kemudian menawarkan gunung lain sebagai tambahan perjalanan.

“Dia tanya, gunung apa Tengah yang harus didatangi Demi di sini. Saya tawarkan Gamkonora dan Tabaru,” kata Reza. “Tapi targetnya memang Dukono.”

Sebelum mendaki Dukono, Reza memandu Grup tersebut mendaki kedua gunung tersebut.

Popularitas Gunung Dukono belakangan memang meningkat setelah video-video tentang gunung tersebut ramai di media sosial.

Reza mengaku pernah mengunggah pengalamannya mendaki Dukono, yang kemudian diberitakan sejumlah media Global.

“Sejak video saya viral itu, beberapa turis asing yang mau datang, mereka menghubungi saya,” katanya.

Reza mengaku sudah aktif mendaki gunung sejak 2010 melalui organisasi Mapala dan mulai membuka jasa pendamping pendakian sejak 2023.

Demi hendak memandu Grup ini, dia mengaku tak mengetahui adanya pemberitahuan penutupan Gunung Dukono sejak 17 April.

“Saya baru Paham setelah turun dan setelah kejadian,” katanya.

Dalam pendakian itu, kata dia, dirinya menggunakan jasa Kaum Desa Mamuya, termasuk Grup karang taruna desa dan pengemudi kendaraan roda tiga yang Biasa mengantar pendaki menuju titik awal pendakian.

“Tanpa bermaksud menyalahkan siapa pun, informasi penutupan Lepas 17 April itu saya enggak dapat. Bahkan dari mereka yang notabene Kaum Mamuya,” ujarnya.

Reza juga mengatakan Tak Menonton adanya papan Pelarangan mendekati Kawah Demi pendakian berlangsung.

“Kita sudah sering naik gunung dan di gunung Indonesia, meskipun Demi Level 2, seperti Rinjani, tetap diizinkan aktivitas pendakian,” katanya Demi menjelaskan alasannya tetap mendaki meski status ‘Waspada’ Dukono.