Manajemen Wisata Wendit Buka Bunyi soal Tunggakan Vendor Rp105 Juta

Foto BeritaJatim.com

Malang (Liputanindo.id) – Manajemen New Wisata Wendit akhirnya angkat bicara terkait viralnya dugaan tunggakan pembayaran kepada vendor pemasangan audio dan CCTV senilai Rp105 juta. Pihak pengelola memastikan penyelesaian tetap dilakukan, Tetapi Ketika ini Lagi dalam tahap pemeriksaan internal.

Dalam keterangan resminya melalui akun Instagram @newwisatawendit, pihak manajemen Wendit menjelaskan pengadaan tersebut dilakukan oleh manajemen Lamban, sementara Ketika ini perusahaan telah mengalami pergantian direksi.

“Pada Ketika pembelian tersebut dilakukan oleh manajemen Lamban yang direkturnya sudah Kagak bekerja Kembali di perusahaan kami, sehingga pihak manajemen baru Lagi melakukan pemeriksaan terhadap proses pengadaan barang yang Lagi memerlukan penyempurnaan administrasi,” tulis manajemen pada Kamis (2/4/2026).

Selain itu, manajemen mengaku mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam menyelesaikan kewajiban pembayaran yang berasal dari kebijakan sebelumnya. “Pihak manajemen baru tentu mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam menyelesaikan setiap pembayaran tagihan yang ditimbulkan oleh kebijakan manajemen sebelumnya,” lanjut pernyataan tersebut.

Meski demikian, pihak Wendit menegaskan tetap Mempunyai itikad Berkualitas Buat menyelesaikan persoalan ini dan akan mengomunikasikan solusi dengan vendor terkait. “Pihak manajemen New Wisata Wendit Niscaya akan menyelesaikan setiap permasalahan dengan itikad Berkualitas dan akan mengomunikasikan penyelesaian dan solusi permasalahan ini dengan pihak vendor,” tegasnya.

Terpisah, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Malang, Firmando Hasiholan Matondang, turut merespons persoalan tersebut. Ia meminta agar permasalahan segera dituntaskan. “Ya, kami sedang mengingatkan Buat segera diselesaikan,” ucap Firmando.

Sebelumnya, kasus ini mencuat setelah vendor mengaku belum menerima pelunasan atas proyek pemasangan CCTV dan audio dengan total nilai pekerjaan mencapai Rp271 juta. Hingga kini, sisa pembayaran sebesar Rp105 juta disebut belum dibayarkan meski pekerjaan telah rampung sejak 2025. (yog/kun)