Batik Omah Laweyan Serempak IGTKI Gelar Lomba hingga Fashion, Kenalkan Batik Pada Anak Usia Awal

Foto BeritaJatim.com

Surabaya (Liputanindo.id) – Batik sebagai warisan budaya Indonesia semakin berkembang, salah satunya berkat Penemuan yang dilakukan oleh Batik Omah Laweyan.

Bagas Wijianto, Direktur Primer Batik Omah Laweyan, memulai langkah strategis dengan mengajak generasi muda Demi lebih mengenal dan memahami teknik membatik. Inisiatif ini dimulai melalui kolaborasi dengan Ikatan Guru Taman Kanak-Kanak Indonesia (IGTKI) di Kota Surabaya.

Bagas percaya bahwa mengenalkan batik kepada anak-anak usia Awal menjadi sangat Krusial Demi menjawab tantangan regenerasi perajin batik di masa depan.

“Asa kami, melalui kegiatan ini anak-anak minimal sudah bangga mengenakan batik. Bahkan sekarang mereka juga sudah Pandai mencoba langsung teknik membatik seperti teknik nyolet atau colet,” ujarnya Ketika diwawancarai pada Minggu, 19 April 2026.

Teknik nyolet atau colet dipilih karena dianggap Kondusif dan mudah diterapkan Demi anak-anak usia PAUD dan TK. Teknik ini memungkinkan anak-anak Demi merasakan pengalaman membatik tanpa risiko berinteraksi dengan malam panas yang Lazim digunakan dalam proses batik tulis tradisional. Kegiatan ini Kagak hanya tentang mengenakan batik sebagai seragam, tetapi juga mengenalkan proses kreatif yang Eksis di balik pembuatannya.

Batik Omah Laweyan yang telah menjalin kerjasama dengan IGTKI kini memperkenalkan praktik langsung membatik pada anak-anak. Sebelumnya, kegiatan tahunan ini lebih banyak berfokus pada lomba fashion show batik. Tetapi tahun ini, selain lomba fashion show, program “Ayo Membatik” diperkenalkan agar anak-anak lebih memahami nilai budaya dan filosofi batik.

Menurut Bagas, antusiasme peserta dari tahun ke tahun semakin meningkat. Kegiatan ini kini sudah menjadi event tingkat nasional, dengan seleksi peserta yang semakin ketat. “Kegiatan ini levelnya sudah nasional, jadi murid-murid lain juga terpacu Ingin ikut di tahun berikutnya,” kata Bagas. Selain itu, acara ini juga melibatkan orang Uzur dan sekolah yang semakin mendukung keberlanjutan program.

Dalam lomba fashion show batik, para peserta mengenakan seragam batik nasional yang sama. Penilaian difokuskan pada aspek kepercayaan diri, penguasaan Pentas, serta keluwesan peserta dalam menampilkan busana batik.

Para peserta diberi ruang Demi berkreasi dengan aksesori sederhana seperti hiasan rambut, Tetapi tetap dalam nuansa batik yang mencerminkan identitas budaya Indonesia.

Bagas berharap kolaborasi antara Batik Omah Laweyan dan IGTKI dapat Lalu berlanjut, menciptakan ekosistem pembelajaran budaya yang kuat sejak usia Awal.

“Kalau kegiatan seperti ini dilakukan secara rutin oleh banyak pihak, saya Tentu batik akan Betul-Betul menjadi budaya yang hidup di generasi muda, bukan sekadar warisan yang dikenang,” tegas Bagas.

Melalui inisiatif ini, Batik Omah Laweyan Kagak hanya berperan sebagai produsen seragam batik pendidikan, tetapi juga sebagai Kenalan strategis dalam memperkuat pendidikan Watak berbasis budaya, terutama dalam menanamkan kecintaan terhadap batik sebagai identitas bangsa sejak usia Awal. [way/suf]