Belum Pelan setelah kunjungan Wakil Presiden, Gibran Rakabuming Raka, ke Kabupaten Yahukimo, Provinsi Papua Pegunungan, pada 21 April 2026, seorang aparatur sipil negara (ASN) bernama Yemis Yohame tewas tertembak.
Penembakan ini memicu duka dan kemarahan, serta tudingan terhadap Tentara Nasional Pembebasan Papua Barat Organisasi Papua Merdeka atau (TPNPB-OPM) serta pihak TNI/Polri.
Sejumlah saksi mata menyebut Yemis Yohame meninggal di pinggir jalan raya, Demi sedang mengakses internet di sebuah kios.
Keluarga Tetap mencari keadilan terhadap pelaku penembakan, dan masyarakat setempat menyebut soal “kekerasan yang berulang” terhadap Anggota Papua.
Kunjungan Gibran
Siang itu, Selasa 21 April 2026, Kota Dekai tampak berbeda. Aktivitas Anggota bergerak lebih teratur, aparat keamanan berjaga lebih rapat dari biasanya.
Sekeliling pukul 12.26 WIT, sebuah pesawat Boeing Punya TNI Angkatan Udara mendarat di Bandara Nop Goliat, Dekai, Kabupaten Yahukimo.
Dari dalamnya turun Wapres Gibran Rakabuming Raka, yang disambut Wakil Gubernur Papua Pegunungan, Ones Pahabol; Sekda Provinsi, Redison Manurung; serta unsur Forkopimda Yahukimo.
Dua bulan sebelumnya, rencana serupa batal dilaksanakan karena situasi keamanan. Tetapi kali ini, agenda berjalan sesuai rencana.
Dari bandara, Gibran langsung menuju Sekolah Kristen Anugerah Dekai. Di sana, ia meninjau Penyelenggaraan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan membagikan Kitab kepada para siswa.
Kunjungan dilanjutkan ke RSUD Dekai. Dalam dialog dengan pimpinan rumah sakit dan dokter spesialis, Gibran mendengar langsung keterbatasan layanan kesehatan di Yahukimo.
Pemerintah, menurut pejabat setempat, berjanji mendukung pendidikan dokter spesialis Demi Papua. Agenda terakhir adalah kunjungan ke Koramil di Kota Dekai. Menjelang sore, rombongan negara meninggalkan kota.
Tetapi, ketika Mentari tenggelam dan Dekai kembali ke ritme biasanya, sebuah peristiwa Malang terjadi.
‘Tiba-tiba Eksis bunyi tembakan’
Sekeliling pukul 18.30 WIT, pada 21 April 2026, Yemis Yohame, seorang ASN di Dinas PUPR Kabupaten Yahukimo, sedang bersantai.
Menurut Yanto Suhuniap, Anggota Angguruk yang kemudian menjadi panitia acara berkabung Yemis, hari itu Yemis baru saja mengikuti kegiatan Gerakan Organisasi Perempuan (GOW) di Lapangan Futsal Narema.
Yemis kemudian pulang ke rumah, mandi, berganti Pakaian, Lewat keluar Demi mengakses internet.
Di kios itu, menurut Yanto, Yemis duduk Berbarengan dua orang lainnya, masing‑masing menunduk menatap ponsel.
“Tiba‑tiba Eksis bunyi tembakan,” tutur Yanto, menggambarkan detik‑detik awal kejadian.
“Kemudian Demi bunyi tembakan, Abang kaget. Abang katakan, ‘aduh, handset meledak’. Setelah itu Abang lepas handset, dan bersamaan dengan handset, dia ikut Terperosok ke belakang. Di samping Abang, dua orang itu Menonton darah mengalir,” oapar Yanto.
Pemilik kios keluar meminta pertolongan dan menghubungi ambulans dari Puskesmas Brasa yang Kagak jauh dari Posisi. Yemis segera dievakuasi ke RSUD Dekai.
Selama Sekeliling satu jam, tenaga medis berupaya menyelamatkan nyawanya.
Tetapi, pada pukul 21.00 WIT, Yemis Yohame dinyatakan meninggal dunia akibat luka tembak.
Berita itu menyebar Segera. Duka menyelimuti rumah keluarga.
Yemis Yohame dikenal sebagai pegawai yang tenang dan aktif. Lahir di Erika, Distrik Anggruk, 14 April 1988, ia Tetap lajang dan telah mengabdi sebagai PNS selama Sekeliling enam tahun.
“Yemis Yohame anak yang terbaik, anak Kagak Mengerti marah,” kata Orpa Yohame, tante korban, pada Sabtu (23/04). “Dia pegawai negeri sipil Hanya enam tahun saja, Kagak Tiba selebih dari itu Tuhan sudah panggil.”
Keesokan harinya, 22 April 2026, keluarga besar korban Berbarengan enam Personil Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Dapil 5, sembilan kepala distrik, kepala Bangsa Yali dan Meek, mendatangi Polres Yahukimo.
Personil DPRK Yahukimo sekaligus Ketua Komisi B, Yafet Saram, menegaskan laporan Formal telah disampaikan.
“Masalah ini kami sudah laporkan kepada pihak berwajib,” kata Yafet.
“Kami juga meminta kepada Bapak Kapolres Yahukimo, melalui Kasat intel dan Pak Kasat Demi telusuri dan menangani secara serius, jujur dan secara seadil-adilnya.”
Kekerasan yang Lalu berulang
Bunyi serupa datang dari kalangan pemuda. Ketua Solidaritas Pemuda Yahukimo, Otniel Sobolim, menyebut penembakan ini merupakan bagian dari rangkaian kekerasan yang Lalu berulang.
“Setelah Tobias Silak, Viktor Deyal, sekarang Yemis Yohame,” katanya.
Peristiwa serupa pernah terjadi di Yahukimo pada Agustus 2024. Ketika itu Pria muda bernama Tobias Silak kehilangan nyawa akibat luka tembak di kepala—yang diduga diletuskan Personil kepolisian.
Otniel mengingatkan keluarga agar Kagak buru‑buru percaya pada satu versi.
“Jadi kita jangan langsung percaya kepada satu pihak Lewat menyerahkan masalah ini dan percaya kepada itu,” katanya.
Otniel juga mengomentari soal senjata api.
“Pembunuhan hari ini kan Terang dengan timah panas, bukan Guna pisau atau alat tajam lain,” katanya.
“Yang punya izin bersenjata itu hanya lembaga-lembaga Formal dan lembaga yang melawan atau organisasi yang melawan lembaga Formal perang persenjataan itu TNI POLRI dan TPNPB OPM.”
Apa kata polisi dan TPNPB?
Pernyataan itu bersinggungan dengan Penjelasan dari Panglima TPNPB Kodap XVI Yahukimo, Elkius Kobak, dan Komandan Operasi, Kopitua Heluka. Dalam pernyataan video, mereka membantah keras keterlibatan pasukannya.
“Kami Menonton di media bahwa penembakan terhadapan Keluarga Yemis Yohame adalah itu dari TPNPB, tetapi kami mengatakan bahwa informasi itu hoaks,” kata Kopitua Heluka dalam video yang diterima wartawan BBC News Indonesia.
“Karena saya sebagai komandan operasi sudah telpon kepada beberapa Laskar saya dimana-mana, tapi Akurat-Akurat bahwa pembunuhan ini bukan dari TPNPB.”
Ia bahkan menuding aparat keamanan sebagai pelaku, menyebut kasus ini mirip dengan penembakan sebelumnya di Area Yahukimo.
Di sisi lain, Polres Yahukimo belum mengeluarkan tanggapan. Hingga beberapa hari setelah kejadian, Kapolres Yahukimo belum memberikan keterangan Formal terkait hasil olah tempat kejadian perkara (TKP) maupun pemeriksaan saksi. Upaya konfirmasi wartawan berulang kali Kagak membuahkan hasil.
Sementara proses hukum Tetap berjalan, keluarga Yemis Yohame memakamkan jasadnya pada 23 April 2026 di Kota Dekai. Di tengah duka, mereka Tetap menginginkan adanya keadilan bagi Yemis.
“Kita tetap akan berdoa agar Bisa ketemu dengan Mahluk yang lakukan kriminal di Kabupaten Yahukimo, terutama yang tembak saya punya anak, Yemis Yohame ini, karena anak saya Kagak bersalah,” kata Orpa Yohame.
